Saat Waria Tak Haram Bicara Tuhan

    Ahmad Mustaqim - 15 September 2020 16:08 WIB
    Saat Waria Tak Haram Bicara Tuhan
    Satri Pondok Pesantren Waria Al Fatah bersama sejumlah mitra jaringan. Medcom.id/Mustaqim
    Yogyakarta: Memilih agama maupun kepercayaan menjadi hak warga negara yang dilindungi konstitusi. Termasuk kelompok waria, juga memiliki hak untuk beribadah sesuai agama yang diyakini.
     
    Di Yogyakarta, Pondok Pesantren Waria Al Fatah, menjadi ‘rumah’ bagi sekitar 40 santri. Pondok pesantren yang terletak di  Celenan, Desa Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul ini telah berusia 12 tahun. Bahkan, pondok pesantren tersebut sempat didesak untuk dibubarkan pada 2016 oleh sekelompok organisasi kemasyarakatan berbasis agama.
     
    Diskriminasi hingga cibiran menjadi hal yang masih dialami kelompok waria. Meskipun, sejumlah tokoh berpendapat waria tetap memiliki hal menjalankan ibadah sesuai yang diyakini, seperti KH Mustofa Bisri (Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth thalibin Rembang, Jawa Tengah); KH Imam Aziz (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama/PBNU); dan Nyai Masriah Amva (Pimpinan Pondok Pesantren Al-Islam Kebon Jambu, Cirebon).
     
    Itu cerita sekilas isi buku Santri Waria; Kisah Kehidupan Pondok Pesantren Waria Al Fatah Yogyakarta yang ditulis Masthuriyah Sya’dan. Buku ini di-launching pada ulang tahun ke-12 pondok pesantren tersebut.
     
    “Saya sebagai peneliti hanya bisa memaparkan fakta. Bahwa waria juga punya rasa kebertuhanan,” kata Masthuriyah kepada Medcom.id ditemui di Pondok Pesantren Waria Al Fatah pada Minggu 13 September 2020 malam.
     

    Saat Waria Tak Haram Bicara Tuhan
    Masthuriyah Sya'dan, penulis buku Santri Waria; Kisah Kehidupan Pondok Pesantren Waria Al Fatah Yogyakarta. 

    Masthuriah menyajian beragam aktivitas kehidupan santri waria di dalam buku setebal 360 halaman itu. Berbagai orang terlibat dalam kegiatan santri waria. Mereka berperan dari pengasuh, peneliti, hingga guru.
     
    Suka hingga duka dirasakan mereka yang terlibat di dalamnya. Meski bersifat sosial dan bermanfaat untuk orang lain, membantu kelompok waria tak lantas membuat semua orang peduli. Terlibat dalam kegiatan kelompok terpinggirkan justru malah dipandang sebelah mata.
     
    “Suka duka mengajar ada di sini, dari cacian, bullying, hingga penghargaan yang sangat sedikit. Saya pikir kalau berkecimpung dalam komunitas marjinal, tapi malah cacian,” ujarnya.

    Baca: Cerita Penghuni Pesantren Waria Yogyakarta Bergulat Melawan Covid-19
     
    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id