Aparat Diminta Lebih Gesit Memantau Pergerakan Teroris - Medcom

    Aparat Diminta Lebih Gesit Memantau Pergerakan Teroris

    Ahmad Mustaqim - 14 Oktober 2019 17:39 WIB
    Aparat Diminta Lebih Gesit Memantau Pergerakan Teroris
    Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.
    Yogyakarta: Aparat keamanan diminta lebih keras memantau pergerakan dan daerah yang menjadi basis teroris. Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Najib Azca mengatakan pemantauan perlu dilakukan agar penyerangan terhadap simbol negara tidak terulang.

    "Upaya pemantauan kelompok tersebut membutuhkan upaya lebih keras," kata Najib saat dihubungi, Senin, 14 Oktober 2019.

    Najib menjelaskan kewaspadaan terhadap kelompok-kelompok tersebut tetap tak boleh berkurang. Terlebih Kapolri Jenderal Tito Karnavian pernah menyebut anggota kelompok radikal menarget sejumlah pejabat tinggi negara.

    Namun Najib menilai penyerangan yang dilakukan kelompok radikal mengalami penurunan daya rusak. Hal ini berkaca pada penyerangan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto di Pandeglang, Banten, beberapa waktu lalu.
     
    "Ini (penusukan Wiranto) refleksi bahwa kemampuan daya destruksi letak atau daya penghancuran kelompok teroris berkurang dibanding yang dulu," jelas Najib.

    Najib kembali mengatakan penyerangan yang dilakukan anggota kelompok radikal tersebut memakai senjata tajam untuk melukai korbannya. Ia menilai kelompok semacam Jamaah Islamiyah (JI) menjalankan aksi yang berbeda dengan sebelumnya.

    Ulah kelompok JI yang masih diingat memori yakni kasus bom Bali pada 2002 dan 2003. Menurut Najib kelompok JI dalam menjalankan aksinya memiliki karakteristik terlatih.

    "Mereka (anggota JI) mendapat pelatihan paramiliter di Afganistan atau di Mindanao (Filipina)," beber Najib.
     
    Najib mengungkapkan banyak anggota teroris yang terhubung dengan kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD). Kelompok JAD yang pro terhadap ISIS tidak terlatih secara kemiliteran.

    Meski begitu, kelompok tersebut aksinya lebih banyak memakan korban. Ia menilai, kelompok yang belakangan muncul ini sebatas orang yang terpapar virus jihadisme. 

    "Pokoknya yang penting (korbannya) mati, bahkan korbannya siapa tidak jelas pun enggak apa-apa," pungkas Najib.



    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id