Akhir Kisah Penjual Gudeg Sejak Zaman Kolonial

    Ahmad Mustaqim - 13 Juli 2020 17:35 WIB
    Akhir Kisah Penjual Gudeg Sejak Zaman Kolonial
    Mbah Lindu saat masih berjualan gudeg di Jalan Sosrowijayan, Malioboro, Yogyakarta pada 2016 lalu. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
    Yogyakarta: Biyem Setyo Utomo atau Mbah Lindu, tutup usia pada Minggu, 12 Juli 2020. Penjual gudeg sejak zaman kolonial itu tak bisa lagi dijumpai dengan masakannya di Jalan Sosrowijayan, Malioboro, Kota Yogyakarta.

    Anak ketiga Mbah Lindu, Ratiyah, mengatakan ibunya sudah sakit sejak beberapa tahun terakhir. Perempuan kelahiran 31 Desember 1920 itu juga sempat jatuh ketika berpegangan pintu di dapur saat hendak mengawasi masakan gudeg.

    "Jatuhnya 6 Juni kemarin. Sempat masuk dirawat di rumah sakit," kata Ratiyah di kediamannya kawasan Klebengan, Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Senin, 13 Juli 2020.

    Salah satu legenda kuliner gudeg di Yogyakarta itu kini telah tiada. Raganya telah dimakamkan di pemakaman umum kawasan Klebengan.

    Warisan Semangat

    Mbah Lindu bukan sosok asing bagi penikmat gudeg. Usianya tak bisa dijadikan acuan dalam menjalani aktivitas sebagai pelaku kuliner berbahan nangka tersebut.

    Beberapa tahun lalu, Mbah Lindu masih rutin berjualan gudeg di sebuah pos ronda di Jalan Sosrowijayan. Sebelum berjualan ia sudah memasak sejak dini hari. Seluruh proses memasak ia lakukan sendiri.

    "Dulu simbok jualan gudeg jalan kaki pas usianya 15 tahun di Jalan Solo (kini bernama Jalan Urip Sumoharjo) berangkat jam 4 pagi. Jalan tanpa alas kaki sampai Malioboro sama Sosrowijayan," ukenang Ratiyah.

    Baca: Kisah Penjual Gudeg sejak Sebelum Penjajahan Jepang

    Kerja keras itu dilakukan Mbah Lindu puluhan tahun. Dari belanja, meracik, hingga memasak menjadi sajian gudeg siap santap, dilakukan hampir seumur hidup.

    Namun dalam tiga tahun terakhir, Mbah Lindu sudah tidak berjualan langsung. Gudeg masakan mbah Lindu dijual oleh Ratiyah.

    "Simbok sudah gak jualan ditanyakan sama pembeli. 'Simbok ke mana?'," ungkapnya.

    Akhir Kisah Penjual Gudeg Sejak Zaman Kolonial

    Ratiyah hanya menjawab sekadarnya. Ia melihat sang ibu sosok yang dirindukan banyak pelanggan. Apalagi salah satu yang menanyakan kabar itu merupakan pelanggan dari Jakarta. Selain itu beberapa waktu lalu ada orang mengaku perwakilan dari Swiss mendatangi kediaman Mbah Lindu.

    Tak hanya itu, pakar kuliner William Wirjaatmaja Wongso, atau akrab dipanggil Willam Wongso, pernah mengulas proses memasak gudeg yang Mbah Lindu lalukan. Proses memasak gudeg itu Mbah Lindu lakukan di rumah limasan kuno nan sederhana.

    "Pernah kami minta pindah ke rumah depan tapi simbok enggak mau. Rumahnya masih asli, usianya sudah puluhan tahun," kata Ratiyah.

    Pesan Mbah Lindu

    Sebelum ajal menjemput, Mbah Lindu masih sempat memasak gudeg. Ia memantau hampir setiap proses memasak yang dibantu Ratiyah.

    Anak kedua Mbak Lindu, Lahono, sempat menemani hari-hari terakhir sang ibu. Pesan yang ia ingat, Mbah Lindu meminta anaknya tetap menjaga kerukunan.

    "Simbok sempat minta maaf kalau ada salah. Pesannya, anak-anak dan saudara tetap kompak walau ditinggal. Dia pesan sambil memeluk saya. Biasanya kalau meluk saya sambil dikasih uang," ujarnya.

    Lahono mengatakan usaha kuliner gudeg akan diteruskan anaknya. Ratiyah menjadi sosok yang secara tak langsung akan meneruskan pekerjaan sang ibu.

    "Simbok itu tahu, apa resep yang kurang dari masakannya. Masaknya tetap pakai (bahan bakar) kayu. Resepnya akan dijaga," kata dia.

    Ia menambahkan Mbah Lindu menjadi sosok generasi ketiga yang berjualan gudeg. Nenek dan ibu dari Mbah Lindu dulunya juga menggeluti kuliner serupa.

    "Anak dan cucunya juga jualan gudeg. Sekarang sudah ada sampai generasi kelima," ujar Lahono.

    (DEN)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id