Kisah Pedagang yang Sukses Kembangkan Bisnis Saat Pandemi

    Muhammad Syawaluddin - 28 November 2020 19:26 WIB
    Kisah Pedagang yang Sukses Kembangkan Bisnis Saat Pandemi
    Makanan khas Sulawesi Selatan, Burasa atau Buras. Medcom.id/ Muhammad Syawaluddin
    Makassar: Sejak ditemukannya kasus baru covid-19 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pertengahan Maret lalu. Seluruh sektor mulai lumpuh termasuk pada sektor usaha.

    Apalagi saat pemerintah kota memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai kebijakan dalam meredam kasus virus korona ini, seluruh usaha seperti berhenti bernafas. Rumah makan, restoran, pusat perbelanjaan, hotel dan tempat umum secara serentak ditutup, sejak itulah roda perekonomian tersendat.

    Baca: Jakarta Menempati Posisi Tertinggi Kasus Covid-19

    Meski dari beberapa pelaku usaha harus menerima risiko untuk tutup dan mengorbankan para pekerjanya, pelaku usaha lainnya beruntung masih mampu mengubah bencana non alam ini menjadi keberuntungan. Salah satunya yang dirasakan Pemilik Dapur Mama Aji Makassar, Fakra Rauf.

    Fakra menceritakan awal terbentuk Dapur Mama Aji karena usaha milik saudaranya Kedai Pak Bur di Jalan Poros BTP, Kota Makassar, harus tutup karena imbas dari virus korona, sehingga hampir seluruh pegawainya pun dirumahkan.

    "Saya menawarkan saran kepada saudara saya, agar dialihkan ke sistem penjualan online, dari pada kita menganggur. Tapi ternyata tidak bisa menutupi omzet, sehingga saya berpikir untuk membuat menu lain dari biasanya, yaitu buras (panganan khas Sulawesi Selatan yang bisa disebut lontong bersantan)," katanya di Makassar, Sabtu, 28 November 2020.

    Fakra pun berpikiran untuk memberi nama baru dengan nama Dapur Mama Aji karena dinilai lebih familiar bagi masyarakat Kota Makassar. Buras pun menjadi menu utama yang ditawarkan dengan menu pendamping Bajabu' Ikan (produk olahan dari ikan, yang disangrai hingga kering bersama santan kelapa, bajabu' dapat dijadikan lauk atau camilan sejenis abon ikan).

    "Kami memilih buras karena panganan khas ini sudah jarang dijual, khususnya di Kota Makassar, biasanya hanya dijumpai saat perayaan hari raya ied saja, apalagi buras dengan rasa khas kampung, begitu pun dengan bajabu' ikan," ujarnya.

    Ia pun bersepakat menggarap usaha ini bersama saudaranya pada Maret 2020 lalu, memanfaatkan beberapa pegawai milik saudaranya untuk membuat buras dan bajabu' ikan. Sementara dirinya (Fakra) bertugas memasarkan jualannya dengan memanfaatkan sistem digital marketing yaitu memasarkan di media sosial seperti Instagram, Fans Page, Grup Bisnis, Facebook, dan Whatsapp.

    Sedangkan untuk strategi awal dalam menggaet pelanggan, dirinya menawarkan berbagai promo menarik. Begitu pun pada mekanisme penjualan, mereka mewajibkan penerapan protokol kesehatan. Misalnya proses pembayaran dilakukan dengan sistem transfer, begitupun untuk kurir telah dibekali dengan masker, hand sanitizer dan kaos tangan. Proses packingnya produk juga dipastikan aman dari penularan karena seluruh pegawai yang dipekerjakan menggunakan masker dan face shield.

    "Allhamdulilah hanya beberapa minggu kami mempromosikan dan memasarkan Dapur Mama Aji diterima masyarakat, apalagi dari testimoni pelanggan karena kualitas dan rasanya yang enak," ungkapnya.

    Diakui Fakra permintaan pun semakin banyak, apalagi saat pemberlakuan PSBB di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, ia mengaku bisa menjual hingga 200-300 ikat perhari. Harga untuk buras per ikatnya ditawarkan Rp3.000/ikat, sedangkan untuk harga bajabu' ikan Rp25.000/ gram.

    Permintaannya pun bukan hanya di wilayah Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, tetapi beberapa daerah sekitar seperti Kabupaten Maros dan Takalar juga sudah menjadi wilayah pemasaran, tak sedikit pun dari luar Sulawesi Selatan.

    "Bisa dibilang ini keberkahan bagi saya dan saudara saya," bebernya.

    Karena banyaknya permintaan hingga saat ini, para pegawai Kedai Pak Bur pun secara bertahap dipanggil kembali untuk dipekerjakan di Dapur Mama Aji.

    "Sampai saat ini permintaan masih banyak, saya berusaha untuk tetap mempertahankan kualitas rasa, dan pelayanan yang baik kepada pelanggan, misalnya biaya ongkos kirim untuk wilayah Kota Makassar kita berlakukan hanya Rp10.000 saja," katanya.

    Proses pemasaran Dapur Mama Aji pun kini bukan hanya dari digital marketing, tetapi juga dari mulut ke mulut. Dengan usaha dan kerja keras ini Dapur Mama Aji mampu memperkerjakan puluhan orang untuk menghidupi keluarga masing-masing, terutama mereka yang terdampak virus korona ini.

    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id