Ada Sumber Air di Gunungkidul yang Tak Kering Meski Kemarau

    Ahmad Mustaqim - 21 Oktober 2019 13:49 WIB
    Ada Sumber Air di Gunungkidul yang Tak Kering Meski Kemarau
    Sedang Beji di Dusun Pengkol, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, yang tak pernah kering meski kemarau, Senin, 21 Oktober 2019. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
    Gunungkidul: Pipa berukuran setengah inci saling tumpang-tindih menjebol tembok berlumut. Lebih dari lima pompa air terhubung dengan pipa-pipa tersebut. 

    Pipa-pipa itu menyalurkan air dari sumber air atau sendang di Dusun Pengkol, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masyarakat biasa menyebut lokasi itu dengan nama Sendang Beji. Lokasi sendang itu berada di bawah pohon besar dan pinggir jalan.

    Puluhan kepala keluarga (KK) Dusun Pengkol bergantung kepada sumber air tersebut untuk kebutuhan domestik. Ada yang dengan memakai pompa air, ada pula yang mengambil dengan ember dan jeriken. 

    Salah seorang warga, Wagiyah, mengatakan sudah bertahun-tahun menggunakan air dari sendang itu. Tinggal di dusun tersebut sejak 1997, ia mengingat belum pernah sumber air itu berhenti mengalir. 
     
    "Sampai saat ini air di sendang itu alhamdulillah tidak pernah kering, khususnya saat musim kemarau," kata Wagiyah di dekat Sedang Beji, Senin, 21 Oktober 2019. 

    Perempuan berusia 42 tahun ini mengungkapkan debit air memang berkurang saat kemarau panjang seperti saat ini. Namun berbagai kebutuhan warga sekitar masih bisa dipenuhi dengan air dari sendang.

    Saat itu ia mengaku mengambil air menggunakan ember. Setelah memiliki uang cukup, keluarga Wagiyah membeli pompa air untuk menghubungkan aliran air dari sendang ke rumahnya. Rumahnya dengan sendang berjarak kurang dari 50 meter. "Pasang pipanya tahun 2008," kenang Wagiyah.

    Wagiyah menyebut ada dua warga di rukun tetangga (RT) 1 dan RT 2 yang memasang instalasi pipa itu. Namun ada instalasi pipa yang tak membutuhkan pompa karena posisinya berada lebih rendah dibanding sendang. 

    "Ada juga warga yang ambil air pakai jeriken atau ember. Biasanya jam enam pagi atau empat sore. Ada yang pilih cuci pakaian dan mandi langsung di sendang," beber Wagiyah.

    Wagiyah tak tahu pasti sejak kapan keberadaan sumber air itu. Ia hanya mengingat setiap setahun sekali warga gotong royong membersihkan area sumber air itu agar alirannya tidak terganggu kotoran.

    Sementara, Widodo, warga lain, kerap memanfaatkan sumber air untuk berwudu sebelum salat. Warga Desa Katongan ini bekerja tak jauh dari sumber air itu. Bahkan ia sudah menaruh ember sejak lama untuk memudahkan berwudu.

    "Air di sini (Sendang Beji) tak pernah kering. Hampir semua warga pakai buat kebutuhan rumah tangga. Kalau kemarau seperti ini tak usah membeli air," ucap lelaki berusia 40 tahun ini.



    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id