Hindari Kerumunan, Mendagri Larang Acara Keagamaan dan Pernikahan

    Gonti Hadi Wibowo - 21 Maret 2020 19:51 WIB
    Hindari Kerumunan, Mendagri Larang Acara Keagamaan dan Pernikahan
    Mendagri Tito Karnavian saat menghadiri rapat kesiapsiagaan penanganan virus korona di Kota Palembang, Sabtu 21 Maret 2020. Foto: Gonti Hadi Wibowo/Medcom.id
    Palembang: Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengimbau masyarakat untuk menghentikan sementara kegiataan keagamaan dan proses pernikahan yang bisa mengundang kerumunan orang berkumpul dalam satu tempat.

    Berkumpulnya orang dalam keramaian dalam satu tempat bisa menjadi ‘senjata mematikan’ dalam penularan covid-19 atau virus korona. 

    “Kami tidak melarang proses keagamaan, pernikahan, olahraga, dan kesenian. Tetapi berkumpulnya orang dalam acara itu yang harus kita larang karena penyebaran virus korona ini sangat cepat penularannya,” kata Tito saat menghadiri rapat kesiapsiagaan penanganan virus korona di Kota Palembang, Sabtu 21 Maret 2020.

    Tito mencontohkan seperti acara keagamaan yang diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia yang menghadirkan 16 ribu orang itu ternyata berakibat adanya 600 orang yang positif virus korona termasuk warga negara Indonesia.

    Kemudian, acara keagamaan yang digelar di sebuah gereja di Korea Selatan juga menularkan beberapa orang yang ternyata positif virus korona.

    “ Arab Saudi saja untuk sementara menunda kegiatan ibadah umrah, kita juga harus menerapkan itu karena  tujuannya untuk melindungi warga negara Indonesia agar tidak terdampak virus korona karena penyebarannya sangat cepat dan berbahaya,” jelasnya.

    Pihaknya mengimbau kepada seluruh kepala daerah untuk segera mengundang tokoh agama dan organisasi masyarakat setempat untuk memberikan edukasi kepada masyarakat untuk sementara waktu tidak berkumpul di tempat keramaian.

    “Saya kemarin sudah mengadakan pertemuan dengan tokoh agama tetapi itu masih belum cukup karena kepala daerah setempat juga sangat perlu untuk mensosialisasikan dampak berkumpulnya orang dalam keramaian itu,” ujar Tito.

    Mantan Kapolri ini juga menyayangkan banyaknya sejumlah warga bukan mengisolasi diri, malah liburan di tengah maraknya covid-19 atau virus korona. 

    “Belakangan ini tempat wisata seperti di Puncak, Bogor, dan Pantai Carita, banyak dikunjungi warga dengan mengajak anak-anak mereka untuk liburan. Ini salah diartikan mereka yang seharusnya berdiam diri rumah malah jadi memunculkan keramaian,” kata Tito.

    Seharusnya, sambung Tito kebijakan kerja dan belajar di rumah itu seharusnya dipergunakan dengan baik dan efektif untuk menghindari penyebaran virus korona. Seperti halnya, yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo yang melakukan rapat melalui video conference bersama para menteri.

    Menurutnya, hal serupa juga harus dilakukan masyarakat khususnya ASN dan siswa yang melakukan aktivitas kerja dan belajar secara darling mengunakan aplikasi-aplikasi yang telah banyak tersedia di smartphone.

    “Memang penerapan belajar darling ini khususnya untuk di Kabupaten itu susah karena terkendala jaringan. Tetapi untuk di perkotaan itu tidak ada kendala karena sudah banyak aplikasi belajar darling sehingga bukan menjadikan alasan mereka untuk belajar,” ujar Tito.



    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id