Masih Ingat Desa yang Dibanjiri Sampah Impor? Begini Kondisinya Sekarang

    Atalya Puspa - 27 Februari 2021 19:29 WIB
    Masih Ingat Desa yang Dibanjiri Sampah Impor? Begini Kondisinya Sekarang
    Menteri LHK Siti Nurbaya saat meninjau Desa Bangun, Mojokerto. Foto: Dok. KLHK



    Mojokerto: Desa Bangun, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur sempat menjadi sorotan tahun lalu. Ini setelah anggota DPR menemukan sampah plastik impor menggunung dan tersebar di lahan kosong saat melakukan inspeksi mendadak. Tumpukan sampah itu bahkan mengganggu permukiman warga.

    Gunungan sampah impor itu berasal dari produsen kertas skala besar yang mengimpor sampah ke desa itu. Sampah mengalir ke sini karena memang masyarakat Desa Bangun hidup dari pemilahan sampah impor. 






    Mengetahui sampah impor mengalir dalam jumlah besar, pemerintah langsung menghentikan pengirimannya. Warga juga diarahkan untuk mencari mata pencaharian lain.

    Setahun berselang, keadaan berubah. Masyarakat di Desa Bangun saat ini sudah tidak mengolah sampah impor lagi. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar yang berkunjung ke sana melihat Desa Bangun jauh lebih bersih.

    "Sudah tidak ada lagi masyarakat yang memilah sampah sisa impor dari pabrik," kata Siti, saat berkunjung ke sana, Jumat, 26 Februari 2021.

    Agar perekonomian di sana tetap berjalan, Siti mengatakan pemerintah terus berupaya memberikan alternatif pekerjaan. Beberapa hal yang bisa dilakukan segera adalah menyiapkan fasilitas pusat daur ulang. 

    Siti yakin fasilitas ini akan menyerap banyak tenaga kerja. KLHK juga berencana membangun bank sampah yang bisa memberdayakan sekitar 1.000 kepala keluarga.

    "Perlu dibangun antara tiga hingga empat unit bank sampah, termasuk juga budidaya magot. Kita harus bekerja cepat untuk masyarakat, sesuai arahan Bapak Presiden," kata Siti.

    Baca: Desa di Mojokerto Stop Impor Sampah

    Selain dua alternatif tadi, pemerintah juga membangun pengembangan usaha produktif masyarakat seperti ekowisata fishing farm dan budidaya ikan lele. "Lokasi desa ini sangat strategis dan bisa menjadi desa pusat pertumbuhan karena desa ini berada di wilayah kota atau urbanized rural,” kata dia.

    Pemerintah Daerah, khususnya otoritas di Desa Bangun, menyambut baik dan mendukung langkah-langkah yang akan diambil. Kepala Desa Bangun, Dedik Isharianto, mengatakan pihaknya telah menyiapkan lahan tanah bengkok desa untuk pengembangan kegiatan produktif masyarakat.

    Dedik menyampaikan di wilayahnya hanya terdapat 9 pengepul yang masih beroperasi untuk memilah sampah. Yakni, sebanyak 6 pengepul sampah plastik dan 3 pengepul kertas dan kardus.

    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id