Pemkot Semarang Segera Tutup Lokalisasi Gambilangu

    Mustholih - 18 Oktober 2019 20:07 WIB
    Pemkot Semarang Segera Tutup Lokalisasi Gambilangu
    Ilustrasi. (Foto: Medcom.id)
    Semarang: Pemerintah Kota Semarang, Jawa Tengah, segera menutup lokalisasi Gambilangu. Penutupan menyusul penghentian praktik prostitusi yang telah bertahun-tahun berlangsung di lokalisasi Sunan Kuning.

    "Tunggu anggaran dulu. Mudah-mudahan tahun depan (bisa ditutup)," kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Semarang, Fajar Purwoto, Semarang, Jateng, Jumat, 18 Oktober 2019.

    Menurut Fajar, lokalisasi yang bertempat di daerah pinggiran Semarang-Kendal itu punya karakteristik yang mirip dengan Sunan Kuning. Bahkan, Fajar meyakini menutup lokalisasi Gambilangu jauh lebih mudah ketimbang Sunan Kuning.

    "Di sana satu karakteristik dengan di sini (Sunan Kuning). (Penutupan) lebih gampang, tinggal dikomunikasikan," kata Fajar.

    Fajar mengatakan lokalisasi Gambilangu dihuni 114 pekerja seks komersial (PSK). Rencana penutupan sudah dikomunikasikan dengan paguyuban dan warga di sekitar Gambilangu.

    "Intinya, saya akan ikuti (metode penutupan seperti) Argorejo (Sunan Kuning)," terang dia.

    Pemerintah Kota Semarang sebelumnya menutup lokalisasi Sunan Kuning. Sebanyak 448 PSK yang puluhan tahun berpraktik prostitusi diberi uang kompensasi Rp5 juta untuk angkat kaki dari Sunan Kuning. Proses penutupan lokalisasi Sunan Kuning ditandai dengan pemberian kompensasi secara massal kepada para PSK.

    Kendati telah ditutup, penulis buku Ough! Sunan Kuning (1966-2019), Bambang Iss Wirya, mengaku, pesimistis penutupan Sunan Kuning bisa menghilangkan praktik prostitusi di Kota Semarang. 
    "Sekarang sudah ditutup. Kemungkinan akan menyebar lagi di spot-spot kota. Mudah-mudahan tidak sih," ujar Bambang, yang turut hadir dalam proses penutupan lokalisasi Sunan Kuning.

    Bambang menyatakan lokalisasi Sunan Kuning sudah menjadi tempat prostitusi di Kota Semarang sejak 1966. Daerah itu dijadikan tempat transaksi bisnis lendir karena praktik prostitusi menyebar di beberapa wilayah Semarang.

    "Waktu itu di Semarang banyak spot-spot PSK seperti di Gendingan, Simpang Lima, Pemuda, dan Jembatan Berok (Kota Lama)," tegas Bambang.

    Karena pelacuran marak, Pemerintah waktu itu akhirnya berusaha melokalisasi dalam sutu tempat. Kemudian dipilih daerah Argorejo yang kelak berubah nama menjadi Sunan Kuning.

    "Jadi alasan Sunan Kuning ada karena supaya (PSK) dilokalisasi," imbuh dia.



    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id