Kasihan, 3 Anak di Malang Jalani Isoman tanpa Orang Tua

    Daviq Umar Al Faruq - 21 Juli 2021 16:03 WIB
    Kasihan, 3 Anak di Malang Jalani Isoman tanpa Orang Tua
    Wali Kota Malang, Sutiaji, menyambangi tiga anak di Kota Malang, Jawa Timur, menjalani isolasi mandiri (isoman) lantaran terpapar covid-19 di Perumahan Puskopad, Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu 21 Juli 2021/Humas P



    Malang: Tiga anak di Kota Malang, Jawa Timur, menjalani isolasi mandiri (isoman) lantaran terpapar covid-19. Mereka menjalani isoman tanpa didampingi orang tuanya di Perumahan Puskopad, Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

    Ketiga anak itu terpapar covid-19 dari orang tuanya. Sang ibu meninggal dunia pada Minggu, 11 Juli 2021, setelah dirawat selama tujuh hari di RSUD Kota Malang. Sedangkan sang ayah kini dirawat di RSUD Kota Malang.

     



    Selama isoman, ketiga anak ini mendapat bantuan dari warga sekitar dengan mengirimkan makanan setiap hari. Kondisi ini membuat Wali Kota Malang, Sutiaji, menyambangi mereka, Rabu, 21 Juli 2021.

    "Ayo, nak, semangat! Supaya cepat sehat," ujar Sutiaji, sembari mengangkat kepalan tangannya memberikan dukungan. 

    Sutiaji menjelaskan, Kota Malang kini memiliki Satgas Malang Raya Trauma Healing (Sama Ramah). Program tersebut berfungsi untuk memberikan pendampingan terhadap anak-anak terdampak covid-19.

    Satgas ini resmi diluncurkan di halaman Mapolresta Malang Kota, Rabu 21 Juli 2021. Sejumlah pihak tergabung dalam satgas ini, antara lain Dinas Kesehatan, TNI-Polri, serta para psikolog dari perguruan tinggi di Kota Malang.

    Setelah resmi diluncurkan, Satgas trauma healing langsung bergerak menemui tiga anak yang terpapar covid-19 di Perumahan Puskopad tersebut. Sutiaji menjelaskan sambang ini menjadi salah satu upaya penyembuhan trauma (trauma healing) bagi penderita covid-19.

    Baca: Polda Jateng: Banyak Jalan Ditutup Dipakai Berolahraga

    Menurutnya, menjalani isoman memiliki muatan emosi yang masuk ke memori dan dapat meninggalkan dampak psikologis, terlebih apabila dialami oleh anak-anak. Oleh karena itu, Sutiaji meminta pendampingan baik dari psikolog maupun dukungan bersama dari warga setempat.

    "Kita menguatkan, nanti kita pendampingan. Kita karena keterbatasan psikolog, nanti pendampingan ada RT RW tangguh," jelasnya.


    (SYN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id