Ekonomi Warga Desa Karangrejek Terangkat Berkat Sumber Air

    Ahmad Mustaqim - 22 Juli 2019 17:56 WIB
    Ekonomi Warga Desa Karangrejek Terangkat Berkat Sumber Air
    Halaman muka Kantor Kepala Desa Karangrejek. Medcom.id-Ahmad Mustaqim
    Gunungkidul: Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta tak lagi kekurangan air saat musim kemarau sejak 2010 berkat sumur bor. Bahkan keberadaan sumur bor menumbuhkan perekonomian warga desa. 

    Sumber air itu dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUM Des) Karangrejek. Masyarakat sebagai sebagai pelanggan harus membayar dan akan menjadi Pendapatan Asli Desa (PA Des)

    "Sampai hari ini pelanggan ada 1.349, termasuk dari Desa Baleharjo, Desa Siraman, dan Desa Duwet," kata Ketua BUM Des Karangrejek, Ton Martono ditemui Medcom.id di balai desa setempat, Senin, 22 Juli 2019. 

    Sumber air di desa memantik pertumbuhan berbagai usaha yang didirikan masyarakat. Yakni laundry, kolam ikan, cucian motor dan mobil, pabrik tahu, tempe, dan plastik. 

    Martono mengatakan salah satu unit usaha BUM Des yakni mengelola air yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Dari hasil pendapatan itu, unit usaha berkembang menjadi simpan pinjam untuk masyarakat.

    "Simpan pinjam bagi masyarakat ini memotong rentenir yang dulu pernah ada. Jadi, unit simpan pinjam penyertaan modalnya dari unit pengelolaan air minum," ujarnya. 

    Selain itu, ada unit usaha agrobisnis pertanian. Unit usaha ini berfungsi menampung berbagai hasil pertanian warga, seperti bawang merah, kedelai, jagung, dan kacang. 

    Unit usaha agrobisnis pertanian juga berfungsi memotong distribusi permainan pasar. Hasil pertanian petani langsung dibeli tanpa harus melewati tengkulak. 

    "Sekarang, tengkulak belinya ke BUMDes. Petani ke BUMDes. Baru kemudian barang ke pasar induk. Petani tak dipermainkan harganya," ujarnya. 

    BUMDesa Karangrejek mampu menyumbang pendapatan desa sebesar Rp115 juta per tahun. Selain itu, Pemerintah Desa Karangrejek juga memberikan sisa hasil usaha (SHU) kepada pemerintah desa lain yang berlangganan air. 

    "Kami berikan setiap tahun. Nilainya tidak besar. Sekitar Rp1 juta hingga Rp3 juta," ungkapnya. 

    BUMDes juga mampu membeli ambulans yang bisa digunakn masyaraka secara gratis. Selain itu warga yang menggunakan ambulans juga mendapat santunan Rp250 ribu, bila anggota keluarganya meninggal. 

    Martono menerangkan unit usaha akan bertambah seiring rencana pembuatan BUMDes Mart di desa setempat. BUMDes Mart sudah disiapkan di lahan 8 x 12 meter. BUMDes Mart nantinya akan bekerja sama dengan Bulog dan menampung hasil industri rumahan warga.

    "Rencananya kami juga akan membendung sungai untuk dikelola BUMDes menjadi desa wisata. Nanti akan ada aktivitas wisata rafting, pemancingan, dan keliling lihat pertanian pakai gerobak sapi. Tahun depan baru kita bangun. Penyertaan modalnya dari BUMDes," jelasnya.

    Ia memperkirakan jumlah pendapatan desa akan bertambah melalui unit usaha pelayanan air bersih. Jumlah pelanggan tahun depan diperkirakan mencapai 1.600. 

    Pihaknya juga akan menambah pengeboran sumber air batu. Sumber baru nanti juga akan disertai mesin diesel cadangan. 

    "Jadi meskipun aliran listrik mati, air tetap mengalir. Kesejahteraan masyarakat di sini terbangun dengan adanya air minum. Masyarakat tak harus mengeluarkan uang untuk beli air saat kemarau, juga ada usaha sebagai sumber perekonomian yang tumbuh," tandasnya.



    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id