Gerakan Ajakan Klithih Dinilai Seperti Api dalam Sekam

    Ahmad Mustaqim - 05 Februari 2020 18:22 WIB
    Gerakan Ajakan Klithih Dinilai Seperti Api dalam Sekam
    Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.
    Yogyakarta: Sosiolog kriminal Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Suprapto, mengatakan gerekan kelompok yang mengajak tindakan kriminal jalanan atau klithih berjalan diam-diam. Kelompok ini melakukan pendekatan secara kultural.

    Suprapto mengatakan pernah melakukan penelitian tersebut dengan turun di lapangan. Ia langsung mendatangi sejumlah lokasi yang acapkali menjadi lokasi tongkrongan para remaja.

    "Saya dengan participant observation. Saya berusaha ikut nongkrong di tempat-tempat yang biasa digunakan oleh para remaja itu," kata Suprapto saat dihubungi, Rabu, 5 Februari 2020.

    Suprapto menjelaskan di lokasi tersebut ia mendengarkan sejumlah percakapan yang dilakukan para remaja yang didominasi usia pelajar. Mereka merupakan calon-calon pelaku klithih.

    "Biasanya mereka bilang kita ketemu di mana, pakai kaos apa, bawa senjata apa. Jadi pada umumnya saya lebih ke para calon-calon pelaku ataupun geng-geng yang berpotensi melakukan kekerasan di jalanan," jelas Suprapto.

    Suprapto mengungkapkan ada juga proses ajakan tersebut dilakukan di sela kegiatan sekolah, seperti out bond atau perkemahan. Pelajar yang bersangkutan memang datang untuk mengikuti kegiatan sekolah dan pihak sekolah juga mengonfirmasi.

    "Tetapi, ketika biasanya mereka berada di lokasi sering kemudian ditemui pihak-pihak tertentu di saat waktu istirahat. Di situ kemudian ada indoktrinasi. Gerakan mereka pasti, ibarat api di dalam sekam," ungkap Suprapto.

    Suprapto bisa melihat langsung sejumlah proses indoktrinasi itu. Namun, ia tak bisa mengambil gambar atau bukti dengan terbuka dalam proses penelitian itu.  

    "Saya tak punya kewenangan merekam, menggerebek. Seperti ini hanya dilakukan pihak-pihak yang berwenang. Saya kira hal-hal seperti ini sudah bisa ditangkap dan dipahami oleh pihak-pihak kepolisian," beber Suprapto.

    Kemunculan geng pelajar ini mulai ada awal tahun 2000an. Hal tersebut kemudian direspon sekolah dengan membuat aturan. Aturan tersebut salah satunya berisi ancaman pengeluaran apabil ada siswa yang terlibat tawuran di dalam geng pelajar itu.

    "Aturan itu kemudian menjadi banyak belajar yang tak mau diajak tawuran. Ketika sulit diajak tawuran, muncullah kegiatan mencari musuh. Mereka tidak mudah mengajak itu. Mereka (memilih) silakan klithih," pungkas Suprapto.



    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id