DBD di Cianjur Mencapai 477 Kasus

    Media Indonesia.com - 30 Juni 2020 15:01 WIB
    DBD di Cianjur Mencapai 477 Kasus
    Ilustrasi. Medcom.id
    Cianjur: Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada semester pertama, Januari-Juni 2020 mencapai 477. Dengan jumlah kematian total lima kasus.

    Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Rostiani Dewi, menuturkan kasus DBD sejak awal tahun hingga akhir Juni cukup merebak. Selain karena faktor iklim, perilaku masyarakat turut berkontribusi merebaknya penyakit yang diakibatkan gigitan nyamuk aedes aegypti tersebut.

    "Tapi sampai sekarang kita belum menetapkan KLB," terang Dewi kepada mediaindonesia.com, Selasa, 30 Juni 2020.

    Dia merinci, pada Januari terdapat 85 kasus, Februari 91 kasus dan kematian 1 kasus, Maret 129 kasus dengan jumlah kematian 1 kasus, pada April 61 kasus dengan jumlah kematian dua kasus, pada Mei 66 kasus dengan jumlah kematian satu kasus, dan pada Juni 45 kasus. 

    "Pada Maret jumlah kasusnya memang melonjak. Kalau kematian yang banyak terjadi pada April sebanyak 2 kasus," terangnya.

    Baca: Kasus DBD Mencapai 70.161 Orang, Bali Terbanyak

    Dewi mengaku berbagai upaya dilakukan untuk mengantisipasi merebaknya DBD. Paling utama yakni melaksanakan 3M Plus yakni, mengubur benda-benda yang bisa menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk aedes aegypti, menguras bak mandi secara rutin, serta menutup tempat-tempat penampungan air.

    "Termasuk melaksanakan program pemberantasan sarang nyamuk," tegasnya. 

    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Yusman Faisal, menambahkan tren kasus DBD setiap bulannya cenderung fluktuasi. Peralihan musim dari kemarau ke hujan, sebut Yusman, cukup rentan berpotensi terjadinya DBD. 

    "PSN dan 3M Plus yakni menguras, menutup, dan mengubur ini merupakan upaya preventif. Plusnya memanfaatkan barang tidak terpakai, menanam tumbuhan pengusir nyamuk, dan memberikan larvasida," beber Yusman. 

    Sementara itu, kata dia, di kalangan masyarakat masih terbentuk stigma penanganan DBD dilakukan dengan cara fogging. Namun, kata Yusman, fogging sifatnya kuratif bukan preventif. 

    "Jadi, fogging tidak terlalu efektif," ujarnya.

    (LDS)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id