Salat Idulfitri di Rumah Hingga Penahanan Kembali Bahar Bin Smith

    Whisnu Mardiansyah - 25 Mei 2020 06:00 WIB
    Salat Idulfitri di Rumah  Hingga Penahanan Kembali Bahar Bin Smith
    Ilustrasi: Medcom.id
    Jakarta: Berbagai peristiwa di seluruh penjuru daerah mewarnai pemberitaan dalam sepekan terakhir. Salah satu yang paling disorot adalah penahanan kembali terpidana kasus kekerasan Bahar Bin Smith. 

    Belum lama menghirup udara bebas setelah menjalani dua pertiga masa hukuman, Bahar Bin Smith hatrus kembali mendekam di jeruji besi. Sosok kontroversial ini dianggap melanggar aturan kerumuman setelah mengumpulkan massa dalam pengajiannya. Bahar pun dianggap memberikan ceramah ujaran keebencian kepada pemerintah.

    Atas temuan itu, Bahar Bin Smith kembali diciduk dan dijebloskan di Lapas Gunung Sindur Bogor. Para pendukungnya sempat menggeruduk Lapas Gunung Sindur dan meminta dia dibebaskan. Bahar Bin Smith pun akhirnya dipindahkan di Lapas pengamanan super ketat di Nusakambangan. 

    Baca: Bahar bin Smith Dikurung di Sel Isolasi

    Selain itu, sepekan terakhir pun berita diramaikan menyoal pelaksanaan salat Idulfitri. Instruksi dari pemerintah pusat agar pelaksaan salat Idulfitri tidak digelar di masjid atau di lapangan seperti tahun-tahun sebelumnya.

    Msayarakat diminta untuk salat Idulfitri di rumah masing-masing. Namun, faktanya beberapa daerah berbeda kebijakan menyikapi pelaksanaan salat Idulfitri. Beberapa kepala daerah semisal Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengimbau warganya salat Idulfitri di rumah masing-masing. 

    Baca: Warga DIY Diimbau Takbir dan Salat Idulfitri di Rumah

    Ada beberapa daerah tetap mengizinkan penyelenggaraan salat Idulfitri di masjid atau di lapangan dengan mengutamakan protokol kesehatan. Dengan alasan daerah tersebut belum masuk kategori zona merah penyebaran covid-19 (korona). 

    Bukan tanpa alasan, imbauan salat Idulfitri di rumah. Hal ini demi menekan penyebaran covid-19 yang bisa ditularkan saat terjadi keramaian massa.

    Baca: Warga Jabar Diminta Salat Idulfitri di Rumah

    Berikutnya, berita yang cukup ironis dan miris. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB), nyatanya hanya aturan di atas kertas. Menjelang beberapa hari menuju Hara Raya Idulfitri, masyarakat berduyun-duyun menyerbu pusat perbelanjaan.

    Bukan untuk berbelanja kebutuhan bahan pokok, warga berbelanja untuk membeli baju baru. Padahal, jelas dalam aturan toko-toko yang selain menjual kebutuhan pokok dan yang tidak terkait penanganan covid-19 dilarang beroperasi.

    Salah satu video viral di media sosial, memperlihatkan salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Tangerang diserbu warga.ahkan sebelum dibuka, warga sudah mengantre di depan pusat perbelanjaan tersebut.

    Kepadatan warga tak lagi mengindahkan protokol social dan physical distancing. Melihat hal itu, Pemerintah Kota Tangerang langsung menyegel pusat perbelanjaan tersebut. 

    Baca: Melanggar PSBB, CBD Ciledug Disegel

    Selanjutnya, akibat menyalahi prosedur penanganan jenazah covid-19, satu RW di Sidoarjo harus diisolasi. Sebanyak 15 orang terinfeksi covid-19 setelah ikut memandikan jenazah tanpa prosedur protokol kesehatan.

    Sementara ratusan kepala keluarga lainnnya harus diisolasi. RW 12 Desa Waru Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo hingga saat ini masih diberlakukan lockdown wilayah karena menjadi klaster baru penyebaran covid-19 (korona). Arus keluar masuk warga harusmenunjukkan surat keterangan RT/RW di bawah pengawasan langsung aparat gabungan TNI/Polri.

    Baca: Jadi Klaster Penyebaran Covid-19, 1 RW di Sidorajo Di-Lockdown

    Terakhir, kasus perudungan bocah penjual penganan tradisional khas Makassar jalenkote oleh sejumlah pemuda di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan heboh di dunia maya. Videonya perundungan viral di media sosial dan mengundnag simpati banyak orang.

    Polisi pun tak membutuhkan waktu lama untuk menangkap pelaku perundungan. Diketahui bocah korban perundungan itu, sehari-hari berjualan untuk membantu ekonomi keluarga.

    Dari kisahnya mengundang banyak orang untuk membantu bocah tersebut. Salah satunya Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah. Bocah itu diundang ke kantor gubernur. Gubernur Sulsel memberikan beasiswa pendidikan kepada bocah itu.

    Baca: Bocah Korban Perundungan Pemuda di Pangkep Terima Beasiswa

    (WHS)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id