PP Muhammadiyah Tak Bakal Ganti Yunahar Ilyas

    Ahmad Mustaqim - 03 Januari 2020 16:52 WIB
    PP Muhammadiyah Tak Bakal Ganti Yunahar Ilyas
    Yunahar Ilyas. Foto: Dok Muhammadiyah
    Yogyakarta: Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah tak bakal melakukan pergantian kepengurusan meski sudah kehilangan dua posisi ketua. PP Muhammadiah sudah kehilangan ketua, Bachtiar Effendy pada 21 November 2019. Kurang dari dua bulan, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tajdid, Yunahar Ilyas, meninggal di RSUP Dr Sardjito pada 2 Januari 2020. 

    "Menurut ketentuan tidak bisa ada yang mengisi sampai nanti ada muktamar. Muktamar akan diselenggarakan Juli tahun ini," kata Ketua PP Muhammadiyah Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan serta Kebudayaan, Muhadjir Effendy usai proses pemakaman jenazah Yunahar di Makam Karangkajen Yogyakarta, Jumat, 3 Januari 2020. 

    Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan ini mengatakan, tidak ada tradisi pergantian posisi pengurus di Muhammadiyah. Ia mengatakan, tugas yang ditinggalkan akan dikerjakan oleh pengurus yang lain. 

    "Posisi yang ditinggalkan beliau (Yunahar Ilyas) kosong, tapi urusannya akan diambil alih pimpinan yang lain," ujar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini. 

    Kata Muhadjir, jabatan yang sempat dipegang Yunahar terbilang unik. Ia mengatakan posisi ini Bidang Tarjih dan Tajdid mengurusi soal kepakaran serta keislaman yang sangat dalam dan luas. 

    "Beliau memiliki pengetahuan keislaman yang multi kompleks, sehingga banyak hal-hal yang istinbat hukum, beliau yang jadi rujukan," ujarnya. 

    Muhadjir Effendy mengaku sangat kehilangan atas meninggalnya Yunahar Bagi Muhadjir, Yunahar sosok konsultan bahasa Arab yang komplet di Kemenko PMK. 

    "Saya salah satu yang dekat dengan beliau. Banyak konsultasi dan bertanya. Bahkan kaitannya bahasa Arab, saya tidak terlalu bagus Arab," kata Muhadjir.

    Kelihaian Yunahar dalam kebahasaan Arab tak lepas dari posisinya di PP Muhammadiyah dalam bidang Tarjih dan Tajdid. Bidang ini mengurusi berbagai keilmuan Islam, termasuk tafsir dalam bahasa Arab. 
     
    Muhadjir berpendapat, Yunahar selalu bisa memberikan pendapatnya tentang tafsir bahasa Arab. Yunahar dinilai selalu memberikan makna pembanding dalam kebahasaan Arab. 

    "Apabila ada kebahasaan Arab yang masih ragu, beliau (Yunahar) yang saya minta second opinion yang saya temukan," kata dia. 

    Muhadjir berharap akan ada sosok pengganti yang bisa meneruskan posisinya saat muktamar nanti. Meskipun, ia ragu Muhammadiyah akan mendapat pengganti dengan kemampuan sepadan. 

    "Mudah-mudahan segera ada pengganti. Tetapi saya yakin tak ada yang mengganti peranan beliau selama ini. Mudah-mudahan keduanya diberikan kedudukan yang mulai sesuai amal kebaikannya," ujar Muhadjir. 

    Sebelum meninggal, Yunahar Ilyas mengalami sakit komplikasi diabetes. Ia sempat dirawat di PKU Muhammadiyah Yogyakarta sebelum akhirnya dirujuk ke RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. 

    Rencananya, Yunahar dijadwalkan menjalani operasi cangkok ginjal di RSUP Dr Sardjito. Operasi belum berjalan, Yunahar meninggal dunia pada 2 Januari 2020, jam 23.47 WIB di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Total, Yunahar sudah dua bulan berada di bawah pengawasan medis. 

    Jenazah Yunahar disemayamkan di PP Muhammadiyah dan dibawa ke Masjid Gedhe Kauman. Jenazah dimakamkan di kompleks pemakaman Karangkajen. 




    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id