22 Daerah di Jatim Rawan Bencana Hidrometeorologi

    Amaluddin - 23 Oktober 2020 16:54 WIB
    22 Daerah di Jatim Rawan Bencana Hidrometeorologi
    Ilustrasi. Medcom.id
    Surabaya: Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengimbau masyarakat di 22 daerah di Jatim waspada potensi bencana. Sebab 22 daerah itu rawan terjadi bencana hidrometeorologi menjelang puncak musim hujan, mulai November 2020 hingga Maret 2021.

    "Sehingga 22 daerah itu harus melakukan kesiapsiagaan bencana. Tapi saya mohon semuanya tetap tenang dan tidak panik," kata Khofifah, di Surabaya, Jumat, 23 Oktober 2020.

    Dari 22 daerah itu, daerah rawan banjir umumnya didominasi oleh luapan sungai di sekitarnya. Seperti sungai Bengawan Solo yang luapannya bisa membanjiri wilayah Bojonegoro, Magetan, Madiun, Lamongan, Gresik, Ngawi, dan Tuban. 

    Kemudian potensi banjir akibat luapan sungai Berantas yakni Malang Raya, Kediri, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Probolinggo, Surabaya, Bondowoso, Lumajang, Banyuwangi, dan Jember. Sedangkan di Pasuruan, banjir berpotensi diakibatkan oleh luapan sungai Welang.

    Demikian juga di Madura, beberapa daerah biasa terdampak luapan Sungai Kemuning yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Daerah tersebut setiap tahun menjadi langganan banjir.

    Baca: Antisipasi La Nina, Khofifah Minta Mitigasi Bencana Segera Dilakukan

    Bencana hidrometeorologi yang lain adalah longsor, yakni mengancam wilayah Jombang, Ponorogo, Kediri, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Malang, Batu, dan Pacitan. Daerah tersebut terdapat pegunungan dan bukit yang kerap longsor saat musim hujan.

    Khofifah mengaku dalam waktu dekat akan menggelar rapat koordinasi dengan jajaran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jatim dalam rangka memetakan potensi bencana lebih detail. Khofifah tetap meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik.

    "Setelah rakor itu kita breakdown dengan bupati/wali kota di 22 daerah itu, kemudian kita akan secara simultan melakukan apel. Jadi kita lakukan kewaspadaan kesiapsiagaan," ujar Khofifah.

    Khofifah menyampaikan pentingnya koordinasi dengan pemerintah daerah, agar informasi terkait potensi bencana bisa sampai kepada masyarakat. Dia mencontohkan, prediksi BMKG terkait gelombang tinggi mencapai 3,5 meter penting untuk diwaspadai para nelayan. 

    "Maka para nelayan harus terkonfirmasi supaya mereka tetap selamat. Oh ini cuaca ekstrim, sementara jangan melaut dua tiga hari dan seterusnya," tukasnya.

    Baca: Kepala BNPB: Kepala Daerah Mulai Sadar Bencana

    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id