Yogyakarta Ingatkan Warga Gejala Penularan Demam Berdarah

    Antara - 05 Januari 2020 12:45 WIB
    Yogyakarta Ingatkan Warga Gejala Penularan Demam Berdarah
    Seorang petugas dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta bersiap melakukan pengasapan (fogging) di kampung Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta, Senin (3/12). ANTARA/Sigid Kurniawan
    Yogyakarta: Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta terus mengingatkan warga untuk mewaspadai potensi meningkatnya penularan demam berdarah (DB) pada awal musim hujan, termasuk mewaspadai gejala awal penularan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk tersebut.

    "Mewaspadai tanda-tanda awal penularan demam berdarah (DB) sangat penting dilakukan. Terutama menghitung waktu panas supaya masa ‘shock’ atau kritis dapat diatasi dengan baik," kata Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Endang Sri Rahayu di Yogyakarta, Minggu, 5 Januari 2020.

    Endang menjelaskan warga perlu mencatat secara pasti waktu awal terjadi demam untuk menghitung hari demam, bahkan hingga hitungan jam bukan saja pada hari.

    "Satu hari panas dihitung dari jam awal terjadinya demam. Misalnya dimulai pada pukul 08.00 WIB, maka satu hari demam adalah pada pukul 08.00 WIB hari berikutnya," jelas Endang.

    Menurut Endang penanganan DB harus dilakukan dengan menghitung waktu demam karena masa kritis biasanya terjadi pada hari keempat atau kelima demam. Pada masa kritis tersebut, suhu tubuh pasien justru mengalami penurunan yang signifikan namun terkadang disertai dengan gejala lain seperti sakit kepala dan mual.

    "Jika tidak ditangani dengan baik, maka masyarakat bisa saja mengartikan bahwa kondisi pasien sudah membaik tetapi yang terjadi justru pasien dalam masa ‘shock’. Pada masa seperti ini, perlu penanganan medis yang tepat," ungkap Endang.

    Oleh karena itu, lanjut Endang, saat pasien mengalami gejala awal penularan DB seperti demam tinggi, maka disarankan untuk segera menghubungi Puskesmas terdekat untuk mendapat penanganan awal yang baik.

    "Kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan berbagai tindakan pencegahan lain juga perlu terus digiatkan di lingkungan warga. Mengubur barang yang berpotensi menjadi genangan juga sangat penting dilakukan," beber Endang.

    Hingga akhir Desember 2019, total kasus DB di Kota Yogyakarta mencapai 474 kasus dengan satu kematian atau mengalami kenaikan bila dibanding tahun sebelumnya yaitu 413 kasus. Kasus terbanyak terjadi di Kelurahan Brontokusuman dengan 29 kasus dan paling sedikit di Kelurahan Tegalrejo dan Patehan dengan satu kasus.

    "Pada 2018, sudah terjadi kenaikan kasus DB pada Oktober hingga Desember. Namun pada 2019 baru terjadi kenaikan pada Desember. Jika tidak dilakukan upaya antisipasi dengan PSN atau menjaga kebersihan lingkungan, maka kasus bisa meningkat pada awal tahun ini," pungkas Endang.



    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id