Epidemolog Sebut Mobilitas Warga Sebabkan Covid-19 di DIY Melonjak

    Ahmad Mustaqim - 21 Juni 2021 23:10 WIB
    Epidemolog Sebut Mobilitas Warga Sebabkan Covid-19 di DIY Melonjak
    Epidemolog UGM, Riris Andono Ahmad. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim



    Yogyakarta: Epidemolog UGM, Riris Andono Ahmad, menyebut tinggi mobilitas masyarakat di Daerah istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi salah satu penyebab lonjakan kasus covid-19. Ada berbagai aktivitas masyarakat semacam hajatan, layatan, hingga syukuran, digelar dengan melibatkan banyak orang.

    "Satu cara untuk menurunkan atau mengendalikan penularan ketika penularan sedang meningkat tinggi itu dengan menghentikan mobilitas," kata Riris di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin, 21 Juni 2021.

     



    Baca: Pemkab Jepara Rekrut Nakes Pembantu

    Kasus covid-19 di DIY bertambah 662 hari ini. Total kasus sebanyak 53.303. Tiga hari sebelumnya, penambahan kasusnya yakni 665 (20 Juni), 638 (19 Juni), dan 592 (18 Juni).

    Riris mengatakan mobilitas tinggi menjadi tempat risiko paling tinggi penyebab penularan covid-19. Ia menjelaskan cara menekan angka kasus bisa dilakukan minimal dalam dua masa penularan. Misalnya dari satu kasus awal menularkan kontak erat. Tracing kontak erat ini bisa menjadi salah satu kunci menghentikan penularan.

    Selain itu cara pengendalian penularan harus ada kebijakan pemerintah yang dijalankan selaras dengan atau didukung masyarakat. Ia menilai, cara pengendalian covid-19 yang dibandingkan dengan negara lain, semacam Vietnam dan Selandia Baru, terdapat perbedaan.

    "Kita sering lihat di media sosial, membandingkan kenapa New Zealand berhasil mengendalikan, Vietnam berhasil mengendalikan. Itu karena mereka mau dipaksa tinggal di rumah selama periode tersebut," jelasnya.

    Menurut dia menahan diri untuk tidak beraktivitas di luar rumah dalam satu sampai dua pekan memang sulit dilakukan. Ia mencontohkan cara yang bisa dilakukan DIY dengan menahan 70 persen masyarakat untuk tidak beraktivitas keluar rumah atau tinggal di rumah dalam durasi dua kali masa penularan covid-19.

    "Sekitar 20 hari, maka seharusnya kita bisa menurunkan kasus," katanya.

    Ia mengatakan istilah lockdown ataupun Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) muaranya adalah mengurangi mobilitas orang. Konsistensi dalam menjalankan berbagai pembatasan aktivitas, seperti work from home (WfH), beribadah dari rumah, sekolah dari rumah, hingga keluar rumah jika sangat mendesak, akan sangat membantu menakan laju penularan korona.

    "Itu kalau kita bisa lakukan secara konsiaten, kita bisa menurunkan. Kerumunan-kerumunan sosial dihindari dulu saat ini," ujarnya.


     

    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id