Polisi Diminta Antisipasi Kasus Investasi Bodong

    Medcom - 07 Januari 2020 00:19 WIB
    Polisi Diminta Antisipasi Kasus Investasi Bodong
    ilustrasi Medcom.id
    Jakarta: Pengungkapan kasus invetasi bodong beromzet ratusan miliar rupiah melalui aplikasi Memiles di Jawa Timur dinilai langkah poisitif. Peran polisi membongkar kedok dapat meminimalisasi jumlah masyarakat yang menjadi korban.

    "Ini langkah baik dari Polri sebelum ada korban lebih banyak seperti di kasus First Travel," kata Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance ( Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara, Senin, 6 Januari 2019. 

    Menurut Bhima kasus penipuan berkedok investasi kian marak di masyarakat. Biasanya, para pelaku menipu korban dengan mencatut nama pejabat atau publik figur. 

    "Ada lagi yang berkedok syariah. Ini semua harus diantisipasi dan perlu perhatian dari penegak hukum dan pihak terkait," ujar Bhima. 

    Menurut dia, banyak masyarakat yang terjerat tipu daya pelaku dikarenakan minimnya pemahaman terkait masalah investasi ini. Biasanya masyarakat diiming-imingi dengan mendapat keuntungan di atas 10 persen. "Padahal bunga bank saja hanya 5 persen. Iming-iming inilah yang menarik masyarakat untuk tertipu," tambah dia.

    Apalagi, masyarakat kerap menggunakan media sosial untuk mencari informasi masalah investasi ini tanpa mengonfirmasi terlebih dahulu. Oleh karena itu pemerintah diminta perlu mengedukasi masyarakat agar terhindar dari hal tersebut.

    Selain itu, Bhima meminta Satuan Tugas Waspada Investasi bentukan Otoritas Jasa Keuangan dan Polri untuk terus mengawasi perkembangan invetasi bodong di masyarakat. 

    Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jatim membongkar investasi ilegal PT Kam and Kam (MeMiles). Perusahaan yang baru delapan bulan beroperasi itu beromzet Rp750 miliar.
     
    "Ada dua orang sebagai tersangka yaitu laki-laki berinisial KTM, 47, dan FS, 52," kata Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan, saat merilis di Mapolda Jatim di Surabaya, Jumat, 3 Januari 2020.
     
    Luki menuturkan kasus investasi bodong itu dilakukan oleh korporasi, yaitu memanfaatkan kebijakan pemerintah terkait dengan iklim investasi. Sasarannya adalah masyarakat kelas bawah sampai menengah.
     
    "Jadi, investasi ini tidak punya izin, sehingga dimanfaatkan oleh korporasi dengan menggunakan aplikasi online email," terang Luki.
     
    Pelaku investasi abal-abal tersebut merupakan residivis. Keduanya pernah ditangkap kasus serupa pada 2015, ditangani Polda Metro Jaya.
     
    "Perusahaan itu bergerak di bidang jasa pemasangan iklan yang menggunakan sistem penjualan langsung, melalui jaringan keanggotaan, dengan cara bergabung di aplikasi Memiles," ujarnya.
     
    Tersangka sudah memiliki 240 ribu anggota selama delapan bulan. Setiap anggota yang berhasil merekrut anggota baru, mendapatkan komisi atau bonus dari perusahaan.
     
    "Jika ingin memasang iklan, anggota harus memasang top up dengan dana dimasukkan ke rekening PT Kam and Kam. Dengan top up itulah anggota memperoleh bonus atau reward bernilai fantastik. Dana masuk antara Rp50 ribu sampai Rp200 juta," bebernya.
     
    Dalam mengusut kasus ini, Polda Jatim bekerja sama dengan OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Polda Jatim segera membuat posko pengaduan khusus yang ditempatkan di SPKT.
     
    "Mungkin banyak masyarakat jadi korban, karena anggotanya lebih dari 240 ribu orang sejak delapan bulan beroperasi," ujarnya.
     
    Polisi menyita barang bukti berupa 18 unit mobil berbagai jenis, dua unit sepeda motor, barang-barang bonus (reward), rekening koran dan data pembelian reward, dan uang sebanyak Rp50 miliar (pecahan Rp50 ribu dan Rp100 ribu).
     
    "Kami selanjutnya juga akan selidiki aset-aset lainnya. Dalam kasus ini, Pasal yang kami terapkan adalah Pasal 160 jo 24 ayat 1 UU No. 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Kemudian UU Perbankan juga. Bisa juga nanti merambah ke TPPU," tandasnya.




    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id