Pandemi Korona Bikin Perajin Topeng Mati Suri

    Ahmad Mustaqim - 05 Juli 2020 09:36 WIB
    Pandemi Korona Bikin Perajin Topeng Mati Suri
    Topeng karya perajin di Gunungkidul. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
    Yogyakarta: Deretan topeng berselimut debu tertata di depan rumah Kemiran. Warga Dusun Bobung, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah istimewa Yogyakarta (DIY), itu hanya pasrah lantaran penghasilan mandek terdampak pandemi virus korona.

    Kemiran terakhir kali memproduksi topeng pada Februari lalu. Tepat saat Maret, ketika virus korona dinyatakan masuk ke Indonesia, ia berhanti total memproduksi topeng batik.  

    "Maret sampai sekarang tidak ada pesanan (topeng) sama sekali. Yang sudah sempat pesan semua dibatalkan," kata Kemiran di Dusun Bubong, Sabtu, 4 Juli 2020.

    Kemiran hanya satu dari puluhan perajin topeng di Dusun Bubong. Wilayah tersebut menjadi penghasil kerajinan topeng sejak 10 tahun lalu.

    Kemiran tak pernah lagi menyentuh kerajinan yang menjadi penopang perekonomiannya dari rumah produksi Panji Sejati. Pendapatan Kemiran langsung putus akibat pandemi covid-19.

    Sebelum covid-19 datang, ia menceritakan, bisa mendapat Rp10 juta dari pemesanan satu hingga dua kodi topeng. Pemesan berasan dari sejumlah negara di luar negeri, Jakarta, dan sebagian Yogyakarta. Selain topeng batik, ia juga menjual beragam permainan tradisional, seperti dakon.

    Baca: Tekad Kampung di Sleman Bebas dari Belenggu Covid-19

    Akibat covid-19, ia juga terpaksa merumahkan lima pakerja. Ia tak tahu sampai kapan kembali memproduksi topeng dan mempekerjakan lima pekerjanya. Di sisi lain, belum ada sepeserpun bantuan ia dapatkan dari pemerintah akibat dampak covid-19.

    "Ini melihara ayam kampung. Kalau ada bantuan ya bersyukut, kalau tidak ya sudah," kata lelaki yang sejak 1992 menekuni produksi kerajinan ini.
     
    Tetangga Kemiran, Irbila juga dalam kondisi serupa. Ia bersama ayahnya berhenti produksi patung kayu akibat pandemi covid-19. Beberapa patung yang sudah dipahat pun tidak dilanjutkan.

    "Sudah tidak ada pesanan lagi, jadi tidak produksi patung lagi," kata Irbila.

    Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Gunungkidul, Sih Supriyana, mengatakan tak ada anggaran untuk bantuan pelaku UMKM kerajinan. Meskipun, ia mengklaim sudah mengajukan anggaran untuk bantuan.

    "Ada 23 ribu sektor usaha yang kami usulkan dapat bantuan. Tapi, kami belum mendapat data dari dinas yang (bertugas) menyalurkan bantuan," katanya.

    Ia mengatakan, sebagian pelaku UMKM kerajinan dan fesyen berinoveasi agar bisa bertahan saat pandemi covid-19. "Kami sarannya perajin ini alih profesi, bertani atau bikin mebel," ucapnya.


    (LDS)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id