Larang Penggunaan Asbes, Bandung Raih Penghargaan dari Australia

    Roni Kurniawan - 06 Februari 2020 19:11 WIB
    Larang Penggunaan Asbes, Bandung Raih Penghargaan dari Australia
    Campaign Coordinator Elimination of Asbestos Related Disease, Philip Hazelton (kiri), menyerahkan piagam penghargaan kepada Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana (kanan).
    Bandung: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mendapatkan penghargaan dari Asbestos Safety and Eradication Agency sebagai satu-satunya daerah di Indonesia yang secara regulatif melarang penggunaan asbes. Larangan tersebut tercantum dalam Perda Kota Bandung Nomor 14 Tahun 2018 tentang Bangunan Gedung.

    Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Campaign Coordinator Elimination of Asbestos Related Disease, Philip Hazelton, kepada Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana, di Balai Kota Bandung, Kamis, 6 Februari 2020.

    Asbestos Safety and Eradication Agency merupakan bagian dari Australian People for Health, Education and Development Abroad (APHEDA) atau yang lebih dikenal dengan Union Aid Abroad. Agensi tersebut bergerak untuk memberikan edukasi kepada publik di dunia tentang bahaya penggunaan asbes.

    "Di Australia, kami sudah berjuang selama 20 tahun untuk menekan penggunaan asbes. Sekarang sudah drastis berkurang. Tapi masih ada lima negara di Asia Tenggara yang penggunaan asbesnya sangat tinggi," ujar Philip.

    Ia menambahkan, Indonesia menjadi negara kedua setelah India sebagai pengimpor asbes terbesar di dunia. Setiap tahun, 120 ribu ton asbes masuk ke Indonesia untuk digunakan sebagai material bangunan. 

    "Kota Bandung ini satu-satunya kota di Indonesia yang secara tegas melarang penggunaan asbes untuk bangunan gedung. Ini penting sebagai komitmen untuk melindungi kesehatan masyarakat di masa depan," ungkapnya.

    Sementara itu, Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana, mengatakan Perda Bangunan Gedung memang merupakan upaya untuk menjaga dan mengendalikan pembangunan kota. Asep kehidupan manusia dan lingkungan menjadi salah satu landasan hadirnya perda tersebut.

    "Kalau di kita, penggunaan asbes ini memang relatif tinggi, karena material itu murah dan mudah pengaplikasiannya. Jadi masyarakat lebih dominan menggunajan asbes," kata Yana ditempat yang sama.

    Saat ini, Pemkot Bandung baru bisa mengontrol penggunaan asbes terbatas pada gedung komersial dan pembangunan perumahan berskala besar. Kontrol itu dilakukan pada saat pengembang akan mengajukan izin mendirikan bangunan. 

    "Kami masih kesulitan mengontrol penggunaan asbes untuk masyarakat umum, seperti di rumah-rumah karena itu tadi, mudah dan murah. Tapi kami melarang penggunaan asbes di gedung komersial dan proyek perumahan," pungkasnya.



    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id