2 Adik Raja Keraton Yogyakarta Didepak dari Kerajaan

    Ahmad Mustaqim - 20 Januari 2021 13:50 WIB
    2 Adik Raja Keraton Yogyakarta Didepak dari Kerajaan
    Keraton Yogyakarta. Foto: Antara/Andreas F. Atmoko (Ahmad Mustaqim)



    Yogyakarta: Dua kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH) Yudhaningrat dan GBPH Prabukusumo dipecat dalam struktur kerajaan. Pemecatan dua adik Raja Keraton Yogyakarta jadi perbincangan di media sosial.

    Saat dikonfirmasi, GBPH Prabukusumo mempertanyakan pemecatan dirinya dari jabatan itu. Ia merasa tak pernah melakukan kesalahan.






    "Karena (pemecatan) itu saya membuat ini (pernyataan tertulis) agar warga DIY tahu, kalau saya dan Dhimas Yudha itu tidak salah," kata dia, Rabu, 20 Januari 2021.

    Ia mengaku sudah tak aktif di Keraton Yogyakarta. Situasi itu ia putuskan sejak Sri Sultan HB X mengeluarkan Sabdatama dan Sabdaraja pada 2015. Ia menilai Sabdatama dan Sabdaraja itu bertentangan dengan aturan internal keraton.

    "Mengapa orang salah tidak mau mengakui kesalahannya, malah memecat yang mempertahankan kebenaran, yaitu kesungguhan pikiran, niat, dan hati yang mulia untuk mempertahankan adat istiadat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak HB I hingga HB IX," ungkapnya.

    Baca: Riwayat Negeri yang Hilang

    Ia menyebut Keraton Yogyakarta tidak mengenal gelar Bawono. Di sisi lain, namanya Prabukusumo yang disandang kemudian menjadi Prabukumo.

    "Artinya surat ini batal demi hukum. Kemudian, nama saya dalam surat juga keliru dan yang mengangkat saya dulu almarhum Bapak Dalem HB IX, 8 kawedanan, bebadan, dan tepas, diteruskan Hamengku Buwono X," kata dia.

    Sebuah surat berbahasa Jawa menjadi penanda pemecatan keduanya. Surat tertanda 'Dhawuh Dalem' berkop Keraton Yogyakarta terdiri atas dua bab.

    Isi bab pertama di dalam surat itu menyoal pergantian kepemimpinan di Parwabudaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Posisi ini sebelumnya dijabat GBPH Yudaningrat. Lewat surat ini menjelaskan jabatan selanjutnya dipegang putri sulung Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, yakni Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi.

    Adapun bab kedua, menjelaskan pergantian pimpinan Keraton Yogyakarta di bidang Nityabudaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Jabatan yang semula dipegang GBPH Prabukusumo berganti dijabat putri Sri Sultan HB X, GKR Bendara.

    Surat itu ditandatangani oleh Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Hamengku Bawono Ka 10 pada 16 Bakdamulud Jimakir 1954 atau 2 Desember 2020. Penyebutan Hamengku Bawono Ka 10 hanya dipakai di internal keraton, sementara dalam perannya di pemerintahan tetap memakai Hamengku Buwono X.

    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id