Petani Bawang Brebes Sulit Memulai Proses Tanam

    Kuntoro Tayubi - 31 Oktober 2019 13:59 WIB
    Petani Bawang Brebes Sulit Memulai Proses Tanam
    Sungai mengering akibat kemarau di Brebes, Jawa Tengah. (Foto: Medcom.id/Kuntoro Tayubi)
    Brebes: Petani bawang di Brebes, Jawa Tengah, mengaku kesulitan memulai proses tanam. Kekeringan ditambah tak adanya sumber mata air membuat para petani tak bisa mengolah lahan untuk tanam bawang.

    Pengurus Kelompok Tani Dewi Sri Desa Larangan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Gatan Sujiwo, 36, mengatakan, yang saat ini dibutuhkan oleh para petani adalah pompa air.

    “Kalau tidak ada pompa, mereka (petani) menunggu hujan tiba. Karena bawang merah butuh air," katanya, Kamis, 31 Oktober 2019. 

    Menurutnya, sumur pompa menjadi kebutuhan mendesak bagi petani. Ada puluhan hektare lahan bawang merah dan tanaman palawija yang masih menunggu pasokan air.

    Gatan menyebut masa tanam bisa saja dimulai, namun perlu usaha ekstra keras. Seperti melakukan penggalian tanah lebih dari 30 meter guna mendapatkan air dengan biaya yang tak sedikit.

    “Kami berharap pemerintah bisa mengalokasikan bantuan pembuatan sumur pantek (pompa) di beberapa titik di Larangan. Supaya budidaya bawang merah berjalan lancar,” katanya.

    Untuk sementara, imbuh dia, petani bawang merah di Brebes menggunakan air limbah rumah tangga untuk mengolah lahan.
     
    Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Larangan, Ilawati, membenarkan, sumur pompa menjadi kebutuhan mendesak para petani. Ia bahkan sering mengusulkan pembuatan sumur pompa di beberapa titik.
     
    “Kemarin terakhir sudah kita usulkan lagi, tapi belum dikabulkan. Mungkin karena kedalamannya lebih dari 30 meter. Padahal sudah saya ajukan untuk 14 titik,” katanya.

    Potensi lahan yang terancam kekeringan di Kabupaten Brebes seluas 1.953 hektare, dari total luas lahan pertanaman 20.410 hektare dan terancam puso 371 hektare. Lahan tersebut ditanami padi, jagung dan palawija. 

    Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Brebes, Yulia Hendrawati mengatakan, lahan baku di wilayahnya kurang lebih 397 hektare, tapi ada 150 hektare lebih yang mengalami dampak kekeringan.

    "Kalau pengeboran mencapai kedalaman lebih dari 60 meter kita memang harus izin provinsi, namun kalau masih di bawah itu bisa. Tahun depan kita upayakan sumur pompa bisa direalisasikan," ungkapnya.

    Yulia menambahkan tengah menjajaki program bor artesis dengan tenaga surya untuk pengairan sawah para petani. Upaya itu dinilai lebih efektif karena petani tidak memerlukan BBM dan pompa air.

    "Persoalannya selain biaya pembuatannya tinggi, pemanfaatan air tanah di kedalaman rata-rata 130 meter dikhawatirkan akan menyebabkan air tanah untuk kebutuhan masyarakat sekitar cepat habis," jelasnya.



    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id