Warga Tangerang Hidup di Gubuk Reyot Selama 13 Tahun

    Hendrik Simorangkir - 14 Oktober 2019 20:07 WIB
    Warga Tangerang Hidup di Gubuk Reyot Selama 13 Tahun
    Aska, 52, warga Kabupaten Tangerang, hidup di gubuk selama 13 tahun, Senin, 14 Oktober 2019. Medcom.id/ Hendrik Simorangkir
    Tangerang: Aska, 52, warga Kampung Sukasari, RT07/02 Desa Pabuaran, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, hidup di gubuk selama 13 tahun. Gubuk yang dihuni Aska tersebut dikelilingi empang dan comberan.

    Mang Akol panggilan akrabnya harus bertahan hidup dalam gubuk seluas 3x3 meter yang berlantai tanah dan berdinding bilik bambu penuh lubang. Tak ada perabotan rumah tangga, hanya sebuah ranjang kayu usang hingga gulungan plastik dibuatnya sebagai bantal untuk menemani tidur.

    "Saya kurang lebih 13 tahun tinggal di sini. Sebelum saya sakit-sakitan, dulu saya masih bisa cari uang dengan kerja kuli bangunan dan serabutan, tapi sekarang tidak lagi karena sudah tidak berdaya sama sekali, karena lumpuh total. Untuk makan sehari-hari, saya hanya berharap pemberian dari tetangga," kata Mang Akol saat ditemui di tempat tinggalnya, Senin, 14 Oktober 2019.

    Warga Tangerang Hidup di Gubuk Reyot Selama 13 Tahun
    Aska, 52, tidak bisa berjalan karena penyakit rematik yang diderita. Medcom.id/ Hendrik Simorangkir

    Tak ada yang baru, semua barangnya sudah terlihat usang. Bahkan lubang dinding menganga di mana-mana. Serta pondasi yang mulai keropos hingga genteng pun sudah banyak yang pecah. Bahkan kesehariannya ia hanya ditemani beberapa ekor ayam miliknya yang diberi oleh tetangga.

    Mang Akol menceritakan tentang kondisinya saat ini yang sudah tidak berdaya untuk melangkah. Dirinya hanya bisa berbaring pasrah karena penyakit yang telah dideritanya sejak 2007.

    Pada 1990 saat dirinya berusia 23 tahun merantau ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk mencari pekerjaan. Ia pun mendapatkan pekerjaan walau hanya sebagai buruh serabutan namun ia tetap menjalaninya.

    Hingga pada 1996, Mang Akol pun bertemu tambatan hatinya dan menikahinya di Banjarmasin. Dari pernikahannya itu, ia memiliki dua putra bernama Rionaldo, 23, dan Agus Jaya, 14. Namun, kebahagian rumah tangga itu pudar pada 2007, lantaran penyakit rematiknya yang membuat dirinya lumpuh tak bisa berjalan.

    "Pada tahun (2007) itu istri dan anak-anak pergi tinggalin saya karena penyakit ini. Saya pun memutuskan untuk pulang ke Tangerang dengan berbagai cara dan berhasil. Saya kangen anak-anak. Saya tidak bisa cari uang lagi, karena kondisi yang sudah tidak berdaya (lumpuh) ini," kenang Mang Akol.

    Mang Akol mengaku tidak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah desa, kecamatan hingga Pemerintah Kabupaten Tangerang. Mang Akol sangat berharap perhatian pemerintah.

    "Diperhatikan saja tidak pernah. Kalau pemerintah bisa membantu, saya bersyukur sekali, karena saya sudah sakit-sakitan begini, tidak bisa lagi bekerja cari uang sendiri untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari," harap Manh Akol.

    Sementara Ketua RT 07 Desa Pabuaran Siman, mengatakan pihaknya berharap pemerintah daerah dapat membantu kondisi Mang Akol dengan membedah rumah tersebut hingga layak huni. Ia menambahkan upaya pemerintah daerah dalam mengentaskan kemiskinan harus benar-benar terwujud dan bukan hanya slogan saja.

    "Pemerintah Kabupaten Tangerang bersama instansi terkait diminta untuk lebih proaktif dalam memperhatikan kondisi kehidupan masyarakat di daerah ini, khususnya kepada mereka yang masih membutuhkan sentuhan bantuan dari pemerintah dan para dermawan," kata Siman. 



    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id