Napi Lapas Tangerang Dihantui Kecemasan dan Susah Tidur

    Antara - 16 September 2021 23:05 WIB
    Napi Lapas Tangerang Dihantui Kecemasan dan Susah Tidur
    Pendampingan yang dilakukan Dinkes Kota Tangerang terhadap napi di Lapas Kelas 1 Tangerang usai peristiwa kebakaran. ANTARA/ Dok.Dinkes Tangerang



    Tangerang: Napi di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Tangerang, Banten, banyak yang mengalami kecemasan dan kesulitan tidur setelah peristiwa kebakaran di blok C beberapa waktu lalu.

    Kabid Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUD Kota Tangerang, Amir Ali, mengungkapkan dari hasil kuesioner para napi banyak yang mengalami kecemasan dan kesulitan tidur.

     



    "Maka, pada trauma healing (pemulihan trauma) ini belasan dokter psikiater dan psikolog diturunkan. Melakukan terapi kejiwaan dan terapi pengobatan. Sejauh ini belum ada yang naik pada tahap rujukan," kata  Amir, di Tangerang, Kamis, 16 September 2021.

    Baca: Satu Lagi Korban Kebakaran Lapas Tangerang Meninggal, Total 49 Orang

    Amir menjelaskan pada proses terapi, dilakukan secara orang per orang sehingga sampai saat ini baru sekitar 83 napi yang ditangani. Menurut dia jika trauma healing seperti ini tidak dilakukan, tidak menutup kemungkinan para napi dapat mengalami kecemasan yang lebih dalam atau depresi yang mendalam.

    Setelah empat hari trauma healing ini selesai, terapi rutin akan dilakukan jajaran dokter Kemenkumham. "Kami Dinkes dan pihak RSUD bersiap untuk kesiapan obat-obatan dan menerima napi yang sekiranya membutuhkan penanganan rujukan yang lebih mendalam," jelas Amir.

    Sementara Kepala Bidang P2P, Dinkes Kota Tangerang, Indri Bevy, mengungkapkan program trauma healing digelar sejak Selasa, 14 September 2021 hingga Jumat, 17 September 2021 bersama RSUD Kota Tangerang dan Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI).

    Trauma Healing saat ini difokuskan pada para napi dan nanti dilanjutkan ke petugas yang bertugas saat kejadian.

    Dia menjelaskan sejak hari kedua insiden kebakaran terjadi, tim Dinkes sudah turun untuk melakukan pendekatan, penenangan dan pendalaman terkait sejauh apa gangguan psikis atau mental yang diderita korban selamat di Blok C. Begitu juga dengan mereka di blok tetangga yang sekadar mendengar atau melihat proses kejadian.

    "Sebelum para napi bertemu dokter, Dinkes telah menyebar kuesioner dengan 29 poin pertanyaan. Dari hasil itu baru ditentukan mereka membutuhkan penanganan psikiater atau psikolog dengan berbagai status traumanya," ungkap Indri.

    Sementara itu napi berinisial P menuturkan setelah kejadian dirinya kini lebih susah tidur dan cukup sering teringat-ingat sederet kejadian kebakaran.

    "Butuh penanganan dokter seperti ini. Seperti tadi kan ditanya, apa yang dirasa, keluhannya apa, dan apa yang mengganggu. Jadi buat saya butuh, supaya saya bisa mengungkapkan perasaan saya, jadi lebih lega," kata napi Blok C1 tersebut.

    Hal senada juga diungkapkan napi kasus narkoba berinisial H yang mengaku setelah kejadian cukup mengalami trauma. Terlebih salah satu korban yang meninggal merupakan temannya juga.

    "Mungkin karena saya kefikiran dan mengingat-ngingat dia, jadi saya merasa dia datang ke saya. Tapi kalau sekarang, yang saya rasa lebih ingin ke suasana yang ramai, tidak mau sepi. Jadi pelayanan kesehatan seperti ini saya butuhkan agar saya tahu kejiwaan saya," ujar H.

     

    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id