Kendaraan di Jalur Alternatif Pemalang-Pekalongan Mengular 24 Jam

    19 Juli 2014 13:08 WIB
    Kendaraan di Jalur Alternatif Pemalang-Pekalongan Mengular 24 Jam
    KEMACETAN panjang terjadi di jalur alternatif akibat kerusakan jembatan Comal, Pemalang -- MI/Akhmad Safuan
    medcom.id, Pemalang: Akibat kerusakan jembatan comal ambles hingga mencapai 45 centimeter, jalur alternatif Pemalang-Pekalongan, Jawa Tengah, lebih dari 24 jam mengalami kemacetan total. Kendaraan dari arah barat (Jakarta) maupun timur (Semarang) mengular karena sempitnya ruas jalan dan banyaknya persimpangan.

    Pemantauan Media Indonesia di Pantura, Sabtu (19/7), ribuan kendaraan baik 
    berukuraan kecil maupun besar terhenti di beberapa titik di sepanjang jalur alternatif Pemalang - Pekalongaahkan untuk menempuh jarak sekitar 30 kilometer dibutuhkan waktu hingga 7 jam baru dapat keluar dari kemacetan.

    Akibat kerusakan jembatan Comal, Kabupaten Pemalang yang ambles sedalam 45 centimeter dan dibutuhkan sekitar 5 - 6 hari perbaikan, kemacetan di jalur alternatif yakni Pemalang - Bodeh - Kesesi - Sragi - Wiradesa - Pekalongan tersebut memanjang hingga 30 kilometer karena jalaur yang sempit dengan lebar 4 - 5 meter tidak mampu untuk dua kendaraan bersimpangan.

    Meskipun secara sukarela ratsan warga berupaya membantu ketersendatan, bahkan mengalihkan kendaran untuk dipecah memasuki perkampungan dan persawahan namun kemacetan terus terjadi hingga 24 jam lamanya, beberapa polisi yang terlihat di beberapa titik juga sulit menghadapi kemacetan karena beberapa simpul penyebab kemacetan sulit untuk diurai.

    "Jalur sangat sempit, sehingga ketika terjadi pertemuan antara dua kendaraan besar akan berhenti dan tidak dapat bergerak," kata Wahyono,34, warga Kesesi, Kabupaten Pekalongan yang menjadi relawan pengatur jalan.

    Kondisi jalan yang rusak ditambah dengan sempitnya jalur alternatif, demikian Rahmadi,28, warga Sragi yang juga membantu memberikan petunjuk jalan bagi pelintas, seharusnya tidak dilintasi kendaraan besar seperti truk dan bus, namun  karena sudah terlanjur masuk maka harus diurai.

    Pengamatan lain akibat kemacetan panjang  di jalur altern atif tersebut, warga di jalur itu menggunakan kesempatan untuk mengais rejeki dengan menjual makanan dan minuman, kehadiran pedagang dadakan ini juga membuat pengendaara yang melintas cukup lega karena terbantu kebutuhan makanan.

    "Sejak kendaraan melintas disini, saya bersama para tetangga menjual nasi, untungnya lumayan karena dari modaal Rp200.000 bisa menghasilkan Rp400.000 dalam semalam," kata Mutmainah,44, waarga Bodeh, Kabupaten Pemalang.

    Satu bungkus nasi yang pada umumnya dijual Rp3.000 per bungkus, laku keras dijual Rp5.000 per bungkus, demikian air mineral maupun berbagai jenis minuman lainnya. 

    "Wah kalau tidak ad pedagang nasi ini kita bisa kelaparan disini, karena sudah 12 jam  terjebak di dalam sini, " kata Haryono,39, sopir truk yang mengaki mulai masuk ke jaluy alternatif, Jumat (18/7), pukul 09.00 WIB dan hingga pukul 21.00 WIB belum dapat keluar.

    Para pengemudi truk maupun kendaraan besar, ujar Rochmadi,38, sopir bus jurusan Semarang - Jakarta  terpaksa memilih melintasi jalur alternatif di sini karena tidak mengetahui kalau badan jalan sempit, juga jika harus memutar melalui jalur selatan selain sangat jauh hingga memakan waktu lama dan biaya operasional yang naik dua kali lipat.

    Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo secara terpisah kepada Media Indonesia mengatakan kondisi jembatan Comal, Pemalang terpaksa harus dilakukan perbaikan, karena kondisi yang ambles dan miring selain membahayakan pengguna juga kondisi jembatan tersebut. 

    "Dibutuhkan 6 hari untuk perbaikan dan nanti H-2 sudah dapat dilintasi lagi," tambahnya.

    Meskipun jalur alternatif yang ada sempit, rusak dan gelap pada malam hari, demikian Ganjar Pranowo, namun hanya itu yang ada dan satu-satunya dapat dilintasi oleh kendaraan sebagai pengganti Pantura. Namun demikian sangat disayangkan jika kendaran bus amupun truk besar ikut melintas karena jalur mereka seharusnya dialihkan ke selatan.

    "Jalur alternatif memang hanya untuk kendaran kecil, sehingga jika kendaran besar ikut masuk dipastikan akan menambah kerusakan dan sekaligus juga  menimbulkan kemacetan," kata Ganjar Pranowo.

    Mengantisipasi kemacetan, ujar Ganar Pranowo, telah diperintahkan instansi terkait terutama Dinas Perhubungan Jateng untuk turun ke lapangan ikut mengatur jalan dan memasang papan petunjuk agar mempermudah pelintas hingga jembatan Comal dapat kembali digunakan. (Akhmad Safuan)



    (ADF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id