Kisah Tukang Pijat Pesepeda Tempuh Perjalanan Solo-Yogyakarta

    Ahmad Mustaqim - 17 November 2020 14:41 WIB
    Kisah Tukang Pijat Pesepeda Tempuh Perjalanan Solo-Yogyakarta
    Uud Harahap, tukang pijat bersepeda kayuh, saat di Pos Teteg Malioboro. Medcom.id/ahmad mustaqim
    Yogyakarta: Napas Uud Harahap masih tampak tersengal. Ia sempat mengambil nasi dan minuman gratis yang disediakan di Pos Teteg Malioboro. 

    Lelaki 48 tahun itu lantas singgah di dekat Stasiun Tugu Yogyakarta untuk berteduh. Sebelum sampai di stasiun dekat Malioboro itu baru saja memberikan jasa pijat kepada dokter. 

    "Tadi habis mijat dokter di PKU Muhammadiyah (Yogyakarta). Habis operasi, jadi capai minta pijat," kata Uud ditemui Medcom.id pada Senin, 16 November 2020. 

    Uud memang tukang pijat biasa. Ia memberikan jasa pijat ke pelanggan. Syaratnya, orang yang mau pijat harus bertemu saat ia melintas di jalanan dengan sepeda dan menyatakan minta dipijat kapan.

    "Kalau mau pijat ya biasanya ketemu di jalan. Maunya dipijat kapan jam berapa, kayak nanti sore jam empat, saya akan datang," katanya. 

    Uud akan datang mengayuh sebuah sepeda tua. Sepeda tua itu ia pakai untuk berkeliling di berbagai sudut Yogyakarta, menyesuaikan pengguna jasa pijatnya. 

    Jangkauannya tak hanya Kota Yogyakarta, namun hingga Bantul; Wonosari, Gunungkidul; Sleman; Magelang; hingga Prambanan. Ia tak memakai gawai untuk komunikasi. Hal itulah yang membuat siapa saja yang hendak pijat harus bisa menjumpainya dulu. 

    Bayaran Seikhlasnya

    Sepeda hitam yang Uud kendarai terdapat tulisan 'Pijat Urut, Bayar Sak Ikhlase' (pijat urut bayar seikhlasnya). Papan putih dengan tulisan tersebut melekat di sepeda bagian depan dan belakang. 

    Uud tak memasang tarif jasa pijat. Ia mengaku tak keberatan berapa pun upah jasa yang diberikan. 

    "Dikasih Rp30 ribu, mau. Dikasih Rp40 ribu mau. Dikasih Rp50 ribu, alhamdulillah," kata dia dalam bahasa Jawa. 

    Pijat sudah menjalani jalannya menyambung hidup sejak usia 15 tahun. Ia memilih jadi tukang pijat dibanding tukang jahit. Selain keturunan, menjadi tukang pijat dinilai tak perlu repot memasukkan benang ke lubang jarum. Keterampilan memijat itu diperoleh dari kursus. 

    Dengan berbagai kesederhanaan, ia sudah merasa cukup mendapatkan rezeki dari hasil memijat. Pelanggannya dari kalangan tukang becak, pejabat, hingga anggota dewan. Ia bersyukur juga mampu membayar kos di bilangan Sitisewu, Kota Yogyakarta. 

    "Siang mijat tiga sampai empat orang. Kalau malam berangkat lagi, bisa mijat tiga orang," kata lelaki kelahiran Denpasar, Bali ini. 

    Bersepeda 4 Jam Solo-Yogyakarta

    Uud merupakan warga Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Marantau ke Yogyakarta, ia menempuhnya dengan sepeda kayuh. Ia biasa sebulan sekali pulang ke Tawangmangu. 

    "Dari Tawangmangu naik bus. Dari Solo ke Yogya nyepeda. Empat jam sampai Jogja. Kalau nyepeda Solo-Tawangmangu gak kuat, jalannya nanjak," kata dia.

    Baginya, pekerjaan jadi tukang pijat dengan membawa sepeda kayuh sudah jadi berkah. Ia bisa memberikan nafkah secukupnya kepada anak-istri di kampung halaman. 

    "Istri saya tani di rumah, jualan sayur. Saya kerja ke Jogja cari rezeki. Ya alhamdulillah ada rezeki buat keluarga," ujarnya. 
    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id