Dandhy Laksono Sebut UU ITE Perlu Direvisi

    Antonio - 27 September 2019 19:16 WIB
    Dandhy Laksono Sebut UU ITE Perlu Direvisi
    Majelis Pertimbangan AJI Indonesia, Dandhy Dwi Laksono usai diperiksa Polda Metro Jaya, Jumat, 27 September 2019. Foto: Medcom.id/ Siti yona Hukmana
    Bekasi: Dandhy Dwi Laksono, aktivis sekaligus jurnalis senior menilai bahwa Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) perlu direvisi. Karena menurutnya sudah terdapat sejumlah orang yang disebut menjadi korban dari UU tersebut termasuk dirinya.

    Dandhy yang juga menjabat sebagai anggota Majelis Pertimbangan AJI ini ditetapkan tersangka karena diduga melanggar Undang-Undang ITE dengan melakukan ujaran kebencian.

    "Saya pikir saya bukan korban pertama dari undang-undang ITE, dan sangkaan-sangkaan itu banyak yang lebih dahulu mengalami dan saya satu dari sekian banyak warga negara yang mengalami ini," kata dia di Bekasi, Jumat 27 September 2018.

    Pria yang juga pendiri Watch Dog ini menyatakan, revisi UU ITE lebih diperlukan ketimbang revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang ditetapkan beberapa waktu lalu.

    "Segera amendemen UU ITE karena korbannya sudah jelas dan lebih banyak," ujarnya.

    Dandhy disangkakan melakukan tindak pidana ujaran kebencian. Dandhy disangkakan Pasal 28 ayat 2 Jo Pasal 45 A ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang ITE dan atau Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana.

    Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan Dandhy terancam pidana kurungan penjara lima tahun.
     
    Argo mengungkapkan, pernyataan Dandhy di media sosial Twitter itu belum tentu benar. Komentar terkait kerusuhan di Wamena, Papua itu menurut Argo bisa menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
     
    Cuitan Dandhy yang dipersoalkan yakni, 'Mahasiswa Papua yang eksodus dari kampus-kampus di Indonesia, buka posko di Uncen. Aparat angkut mereka dari kampus ke Expo Waena. Rusuh. Ada yang tewas', dan 'Siswa SMA protes sikap rasis guru. Dihadapi aparat. Kota rusuh. Banyak yang luka tembak'.
     
    Dandhy ditangkap di kediamannya Jalan Sangata 2 Blok i-2 Nomor 16, Jatiwaringin Asri, Pondokgede, Bekasi, Kamis, 26 September 2019, pukul 23.00 WIB.
     
    Penyidik menunjukkan cuitan itu kepada Dandhy saat penangkapan. Pendiri WatchdoC dan sutradara film dokumenter sexy killers itu mengakui telah menulis kalimat tersebut di akun media sosialnya.




    (ALB)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id