comscore

Sejarah Kelam Lokasi KKN Desa Penari, Tragedi Pemenggalan Ratusan Kepala Manusia oleh VOC

Clicks.id - 20 Mei 2022 08:17 WIB
Sejarah Kelam Lokasi KKN Desa Penari, Tragedi Pemenggalan Ratusan Kepala Manusia oleh VOC
Film KKN Di Desa Penari (Foto: MD Pictures)
Banyuwangi: Teka-teki di mana lokasi asli film 'KKN di Desa Penari' akhirnya terungkap lewat akun instagram Menteri BUMN Erick Thohir. Desa menyeramkan itu adalah Rowo Bayu Banyuwangi, Jawa Timur.  

Erick Thohir sempat berbincang-bincang dengan Sudirman yang disebut sebagai pengelola dan penjaga Rowo Bayu Banyuwangi. Dalam video yang diunggah ke media sosial, Erick Thohir menanyakan kisah nyata dari film KKN di Desa Penari.
"Jadi ini true story ya? Bukan hanya mitologi dan dongeng ya, Pak?" tanya Erick Thohir.

Situs Rowo Bayu Banyuwangi memiliki sejarah panjang dan kelam dari mulai masa kerajaan hingga datangnya kolonialisme. Situs ini berkaitan dengan sejarah Prabu Tawang Alun, salah satu Raja Kerajaan Blambangan termasyhur.

Dirangkum dari laman Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, pada 1767 ketika ekspedisi militer VOC datang ke Blambangan untuk membantu kerajaan ini melepaskan diri dari pengaruh kerajaan-kerajaan di Bali. Hanya dalam sebulan, pasukan VOC mengalahkan pasukan Bali pada Februari 1867.

Namun, ketenangan rakyat terusik empat bulan kemudian setelah Wong Agung Wilis, saudara tiri Pangeran Adipati Danuningrat (1736-1764), melakukan pemberontakan.

Baca: Pemilik Meninggal Usai Syuting, Rumah Film KKN Desa Penari Dijual, Minat?

Pasukan VOC mampu mengalahkan Wilis dalam tempo setahun dan menunjuk keluarga Bupati Surabaya menjadi Bupati Blambangan pada 1771 untuk program Jawanisasi dan Islamisasi di Blambangan guna memutus pertalian Blambangan dengan Bali.

Tapi, rakyat Blambangan tidak suka sehingga muncul pemberontakan yang dipimpin Jagapati yang mendirikan benteng di Desa Bayu. Berbekal bantuan Kerajaan Mengwi, Jagapati mengalahkan pasukan VOC dalam pertempuran besar pada 18 Desember 1771.

Kematian pimpinan VOC, Vaandrig Schaar dan Cornet Tinne dalam pertempuran itu membuat Belanda marah. Setahun kemudian, VOC mendatangkan ribuan prajurit tambahan dari Madura, Surabaya, dan Besuki.

VOC lalu mendirikan benteng di Desa Bayu dan membakar lumbung-lumbung padi milik pasukan Jagapati hingga merebak kelaparan. Dalam kondisi kesulitan inilah pasukan Jagapati diserang habis-habisan oleh tentara Belanda.

Pertempuan di Desa Bayu ini dikenal dengan Puputan Bayu atau perang habis-habisan dalam istilah Bali. Kekalahan pasukan Jagapati membuat populasi rakyat Blambangan menyusut drastis dari 80.000 jiwa menjadi 8.000 jiwa.

Menurut sejarawan Universitas Gajah Mada, Sri Margana, Puputan Bayu pada 11 Oktober 1772 ini dikenal sebagai salah satu perang yang paling sadis di Indonesia. Pasukan VOC memenggal kepala pasukan Jagapati dan menggantung di pepohonan di sekitar Rawa Bayu.

Untuk mengenang peperangan ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi membangun monumen Puputan Bayu di pintu masuk Desa Bayu. Monumen ini hanya berjarak lima kilometer dari lokasi Puputan Bayu.

Lokasi pertempuran yang dikenal dengan nama Rowo Bayu ini menjadi tujuan wisata alam karena pemandangan yang menarik dan suasananya yang tenang dan damai. Pemeluk Hindu di Banyuwangi dan Bali menjadikan Rowo Bayu sebagai tempat bersuci maupun semedi dan sembahyang

Selain itu, di kawasan Rowo Bayu banyak mengalir mata air (sendang) yang semua alirannya mengalir menjadi satu ke danau (Rowo Bayu). Bahkan, beberapa mata airnya diyakini memiliki khasiat bagi yang meminumnya. Salah satunya, bikin awet muda.

(WHS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id