Menteri PUPR Pelajari Kebutuhan Air di Ibu Kota Baru

    Daviq Umar Al Faruq - 13 November 2019 14:33 WIB
    Menteri PUPR Pelajari Kebutuhan Air di Ibu Kota Baru
    Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono saat menghadiri pengukuhan profesor Universitas Brawijaya (UB), Pitojo Tri Juwono di Gedung Widyaloka UB, Rabu, 13 November 2019. Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq
    Malang: Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, menghadiri pengukuhan profesor Universitas Brawijaya (UB), Pitojo Tri Juwono di Gedung Widyaloka UB. Basuki mengatakan penelitian yang diangkat Pitojo bisa menjadi rujukan tentang ketersediaan air baku di Ibu Kota Negara baru di Kalimantan Timur (Kaltim).

    "Paper-nya Pak Pitojo tentang ketersediaan sumber air di calon ibu kota negara di Kaltim. Ini adalah one step ahead mengantisipasi, karena pasti yang dibutuhkan pertama kali itu air dan energi," kata Basuki di lokasi, Rabu, 13 November 2019.

    Basuki mengatakan jika pihaknya telah melakukan survei sumber air di Kaltim. Hasilnya ada tiga calon bendungan yang bisa dijadikan sumber air. Dua bendungan memiliki ukuran kecil dan satu bendungan sisanya berukuran besar.

    "Bendungan yang kecil itu bisa untuk amenitis. Jadi sebagai komponen perencanaan sebuah kota yang sebagai smart city, menjadi forest city, menjadi metropolis. Jadi ada ruang birunya, ada ruang hijaunya. Bendungan satu yang besar itu untuk ketersediaan airnya. Bisa dimanfaatkan karena dekat," jelas Basuki.

    Basuki menjelaskan penelitian yang diangkat Pitojo tersebut menghitung berapa kebutuhan air baku di ibu kota baru Kaltim. Sehingga penelitian ini bisa menjadi referensi bagi Kementerian PUPR untuk menyiapkan supply air.

    "Ini papernya Pak Pitojo ini kan menghitung demand, kami nanti menyiapkan supply nya. Kalau kami sudah hitung tapi nanti kami akan coba dengan papernya Pak Pitojo," ungkap Basuki.

    Berdasarkan hitungan Kementerian PUPR, rencana pemindahan ibukota akan melibatkan pemindahan penduduk sebanyak 1,5 hingga 3 juta penduduk. Jumlah tersebut sebagian besar merupakan aparatur sipil negara (ASN), TNI dan Polri yang berpindah dari Jakarta ke Kaltim.

    "Kalau saya pindah, satu orang itu saya harus disurvei, misal tenaga Alfamart itu yang tidak langsung mensupport hidup saya. Ada juga nanti pegawai misalnya stasiun BBM. Itu kira-kira nanti 3-5 orang. Jadi nanti kalau saya pindah itu saya akan disupport 5 orang. Ini itung-itungannya Bappenas," jelasnya.

    Basuki mengungkapkan bahwa ada dua sumber air baku yakni dari sumber air permukaan dan sumber air tanah. Namun, di Kaltim potensi sumber air tanah terhitung kecil. Sehingga Kementerian PUPR harus mencari potensi sumber air permukaan.

    "Air permukaan bisa dari sungai, bisa dari danau, bisa dari buatan manusia, bendungan. Nah kami dapat bendungan dan sungai," pungkas Basuki.



    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id