Sebab Gempa Pacitan Terasa Sampai Yogyakarta

    Ahmad Mustaqim - 22 Juni 2020 16:34 WIB
    Sebab Gempa Pacitan Terasa Sampai Yogyakarta
    Ilustrasi. Medcom.id
    Yogyakarta: Gempa bumi di selatan Pacitan, Jawa Timur, Senin dini hari, 22 Juni 2020, dirasakan hingga Yogyakarta dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Getaran gempa terbilang cukup kencang. 

    Dosen dan peneliti di Departemen Teknik Geologi UGM, Gayatri Indah Marliyani, mengatakan gempa magnitudo 5.0 dan kedalaman 63 kilometer itu cukup kencang dirasakan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Gempa, kata dia, juga dirasakan hingga Tulungagung, Nganjuk, dan sebagaian wilayah Jawa Tengah, termasuk Banjarnegara. 

    "Saya sendiri cukup kaget dan merasakan goncangan yang cukup keras dengan arah rambatan gelombang gempa dari arah selatan," kata Gayatri, Senin, 22 Juni 2020. 

    Baca:Gempa Pacitan Terasa Sampai Yogyakarta

    Dia mengatakan, dilihat dari lokasi dan kedalamannya, gempa tersebut bersumber dari dalam lempeng yang menunjam. Posisi lempeng tersebut masih menjadi bagian dari sistem subduksi di selatan Jawa. 

    "Istilah geologinya disebut sebagai gempa intraslab. Dilihat dari mekanismenya, gempa tadi pagi memiliki pergerakan turun, yang terjadi akibat respon batuan terhadap gaya tarikan lempeng samudera ke bawah," jelasnya.

    Dia menjelaskan, tipe gempa tersebut dapat dirasakan secara luas. Lantaran, gempa ada di bagian cukup dalam, pada daerah bertekanan besar, bersuhu cukup tinggi, serta batuan di daerah tersebut bersifat relatif plastis. 

    Gayatri menuturkan, setelah mengalami deformasi, batuan mudah kembali ke posisi awal. Hal ini yang mengakibatkan tidak terjadi gempa susulan. 

    "Gempa dengan tipe seperti ini juga biasanya tidak menyebabkan tsunami karena tidak mengakibatkan perubahan dasar laut secara signifikan," ujar Staf Ahli Pusat Studi Bencana UGM ini. 

    Selain gempa bumi tipe intraslab, lanjutnya, di selatan Pacitan juga sering terjadi gempa akibat sesar naik yang banyak dijumpai pada zona tumbukan lempeng. Gempa tersebut biasanya terjadi di daerah zona prisma akresi dan cekungan muka busur. 

    Baca: Gempa Magnitudo 5,0 Guncang Pacitan

    Dia menerangkan, dilihat dari peta kedalaman bawah laut (batimetri), tampak cekungan muka busur (berupa depresi di lepas pantai) di selatan Pacitan secara drastis menyempit ketimbang di selatan Yogyakarta. Hal itu mengindikasikan di selatan Pacitan ada tekanan yang lebih kuat, yang diakibatkan adanya morfologi tinggian (tonjolan) di dasar laut yang ikut terseret masuk ke zona subduksi. 

    Ia mengatakan, adanya morfologi tinggian  menjadi ganjalan dari proses subduksi yang terjadi, sehingga menyebabkan pergerakan lempeng menjadi tertahan. Energi yang tertahan kemudian dilepaskan melalui sentakan tiba-tiba yang ditandai gempa bumi. 

    "Seringnya gempa berskala kecil atau M5-6 di daerah ini sebenarnya bisa jadi merupakan pertanda baik, bahwa energi yang tertahan dilepaskan secara bertahap," ujarnya.

    Namun, untuk mengetahui berapa sisa energi yang tersimpan perlu dilakukan penelitian secara berkelanjutan. Masyarakat diminta tidak panik terkait kejadian gempa itu.

    "Masyarakat juga perlu terus meningkatkan kesadaran bahwa kita tinggal di daerah rawan gempa, sehingga pengetahuan-pengetahuan mengenai kondisi daerah tempat tinggal perlu dipahami dengan baik," ucapnya.



    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id