comscore

Sepekan Lebih Ratusan Sapi Tertahan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya

Media Indonesia - 13 Mei 2022 17:31 WIB
Sepekan Lebih Ratusan Sapi Tertahan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya
Sejumlah ekor sapi ditampung di kandang milik Balai Karantina Hewan NTT sebelum dikirim ke daerah tujuan di Kupang,NTT,Jumat(13/5/2022). ANTARA FOTO/Kornelis Kaha.
Surabaya: Ratusan ekor sapi asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang akan dikirim ke DKI Jakarta dan Jawa Timur terputus di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, sejak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang pada sapi di sejumlah daerah di Jawa Timur.

"Dalam catatan ada 763 ekor sapi yang tertahan di Surabaya, padahal akan dikirim ke Jakarta," kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Adik Dwi Putranto di Surabaya, Jumat, 13 Mei 2022.
Menurutnya, beberapa ekor sapi tersebut tidak dapat dibongkar karena adanya kebijakan pengendalian lintas serta adanya ketatausahaan terhadap ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing, domba) serta babi dan produk yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Jumat, 6 Mei 2022.

Kebijakan tersebut dikeluarkan sebagai langkah antisipasi penyebaran virus Mulut dan Kuku (PMK) yang terjadi di tengah.

"Saya mendapat laporan dari salah seorang pengusaha ternak bahwa peternakan mereka tidak bisa diturunkan di Tanjung Perak karena adanya pengendalian dan pengendalian. Sudah dua hari ternak itu masih ada di kapal," ujar Adik.

Baca: Pemkot Bandung Perketat Distribusi Hewan Ternak

Ia mengungkapkan, sejauh ini Jawa Timur memang menjadi salah satu sentra ternak sapi potong terbesar di Indonesia dengan populasi sebanyak 4,9 juta ekor. Namun, untuk memenuhi kebutuhan daerah lain, pengusaha juga suka sapi dari luar pulau, salah satunya dari NTT.

Untuk itu, Adik minta pemerintah segera mencarikan solusi agar distribusi hewan tidak tersendat dan kebutuhan pasar bisa terpenuhi.

"Kami meminta pemerintah solusi bagi pengusaha peternakan, khususnya sapi yang saat ini mengalami masalah pengiriman, sehingga arus ekonomi tidak terhambat, apalagi saat ini mengarah kepada pemulihan pascapandemi dan sedang Iduladha, di mana kebutuhan hewan ternak pasti memberikan pengalaman yang cukup tinggi," katanya.

Ia menuturkan, saat dikirim ke daerah asalnya, PMK serta Kondisi Luar Biasa (KLB) belum diterapkan oleh otoritas ternak yang didukung. Aturan ini baru berlaku saat hewan tersebut tiba di pelabuhan.

"Kami minta agar adanya perlakuan khusus atau keringanan. Selain itu, sapi itu bukan dari luar negeri serta tidak bermasalah dalam perizinan, kata Adik.

(WHS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id