Korban Perdagangan Manusia, 2 ABK WNI Nekat Melompat ke Laut

    Anwar Sadat Guna - 06 Juni 2020 21:28 WIB
    Korban Perdagangan Manusia, 2 ABK WNI Nekat Melompat ke Laut
    Dua ABK, Reynalfi, 22, dan Andri Juniansyah, 30, diselamatkan nelayan menuju Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.
    Karimun: Dua orang pria asal Indonesia, ditemukan oleh seorang nelayan terombang-ambing di tengah laut perairan Internasional, Kepulauan Riau, Sabtu 6 Juni 2020 sekira pukul 03.00 WIB.
    Nelayan tersebut langsung menyelamatkan kedua pria tersebut dan kemudian dibawa menuju Pelabuhan Leho, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun.

    Kedua pria tersebut adalah Reynalfi, 22,  asal Pematang Siantar, Sumatera Utara dan Andri Juniansyah, 30, berasal dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

    "Kedua pria ini ditemukan oleh nelayan, dari pengakuan mereka telah terombang-ambing selama tujuh jam dengan menggunakan life jacket, saat ditemukan mereka dalam keadaan lemas," ujar Kapolres Karimun AKBP Muhammad Adenan saat konferensi pers di Mapolsek Tebing, Karimun, Sabtu, 6 Juni 2020.

    Saat dievakuasi kedua pria ini terlebih dahulu menjalani rapid tes, dari hasil keduanya dinyatakakan nonreaktif. Salah satu korban mengaku bersama temannya merupakan Anak Buah Kapal (ABK) dari kapal tangkap ikan asal China bernama Lu Qing Yuan Yu 213.

    "Selama bekerja dikapal itu kami terus mendapatkan penyiksaan seperti lelet sedikit ditendang dan dicaci maki, kami sudah tidak tahan sangat pedih, jadi kami memutuskan untuk melompat saja ke laut," ujarnya.

    Andri mengatakan, selain mengalami penyiksaan fisik ia juga tidak diizinkan berkomunikasi bersama keluarga. "Kami hanya diizinkan tidur selama tiga jam sehari, dan juga handphone kami disita sehingga saya tidak bisa berkomunikasi bersama istri dan anak saya selama berbulan-bulan," katanya.

    Pria asal sumbawa ini mengungkapkan, awalnya ia dijanjikan sebuah pekerjaan di pabrik tekstil dan baju di Korea Selatan dengan ubah sebesar Rp25 juta hingga Rp40 juta oleh seseorang yang mengaku berasal dari agen PT Duta Grup asal Jakarta.

    "Tapi kenyataan saya tidak sampai di Korea, saya dibawa ke Singapura kemudian saya dioper ke sebuah mobil lalu dibawa ke kapal kecil kemudian dipindahkan ke kapal besar berbendera China," ungkapnya.

    Dalam kapal tersebut dijelaskannya, terdapat 12 orang WN Indonesia selain dirinya. Sebelum melompat ia turut mengajak rekan kerja lainnya, namun mereka menolak.

    "Saya dan rekan lainnya semua mendapat perlakuan yang sama, saat saya mengajak untuk melompat ke laut mereka tidak berani karena takut mati, jadi mereka berpesan kepada saya apabila nantinya selamat mohon dilaporkan ke pemerintah agar mereka bisa diselamatkan," jelasnya.

    Sementara itu, Danlanal Tanjungbalai Karimun Letkol (P) Mandri Kartono mengatakan, bahwa kedua ABK ini merupakan korban human trafficking atau perdagangan orang.

    "Mereka ini korban, sindikatnya pasti ada dan akan ditelusuri oleh polisi, dan untuk kapalnya, maka ini suatu temuan juga dan akan menjadi dasar penegak hukum di laut yaitu TNI AL, hal ini menjadi atensi khusus kapal sejenis dikhawatirkan ada yang melakukan apa yang dialami saudara kita ini," katanya.

    Saat ini pihak kepolisian dari Polres Karimun akan melakukan koordinasi dengan Bupati Karimun Aunur Rafiq dan juga Danlanal Tanjung Balai Karimun Letkol (P) Mandri Kartono untuk menindaklanjuti kasus ini.

    (WHS)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id