Komplotan Perakit Senjata Ilegal di Sulsel Ditangkap

    Muhammad Syawaluddin - 18 Februari 2020 19:29 WIB
    Komplotan Perakit Senjata Ilegal di Sulsel Ditangkap
    Kapolda Sulsel Irjen Mas Guntur Laupe memperlihatkan senjata api rakitan hasil sitaan di Mapolda Sulsel. (Foto: Medcom.id/Syawaluddin)
    Makassar: Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan menangkap komplotan perakit senjata api ilegal. Puluhan pucuk senjata beragam jenis turut disita sebagai barang bukti.

    Kapolda Sulsel Irjen Mas Guntur Laupe mengatakan komplotan itu terdiri dari lima orang warga Kabupaten Wajo. Mereka antara lain, Asriyani, 51; Chairil Anwar, 39; Adel Ismawan, 47; Sahabuddin, 45; dan Darmawati, 42.

    "Ada 43 senjata api (rakitan). Barang ini dibuat di rumah," kata Guntur, di Makassar, Selasa, 18 Februari 2020.

    Pengungkapan kasus, kata Guntur, merupakan bagian dari pengembangan atas barang sitaan berupa senjata api yang ditemukan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Senjata ilegal itu rencananya dikirim ke luar Sulawesi Selatan.

    Berdasarkan penelusuran awal diketahui senjata api itu milik seorang aparatur sipil negara (ASN) Kabupaten Wajo, bernama Asriyani. Atas temuan itu polisi mendatangi kediaman yang bersangkutan.

    "Di sana kita temukan beberapa barang bukti lain yang memang adalah hasil rakitan," jelasnya.

    Setelah menangkap Asriyani, polisi melakukan pengembangan dengan menangkap empat orang lainnya. Masing-masing orang memegang peran berbeda.

    Tersangka Chairil Anwar bertugas merakit senjata, Asriyani si pemilik rumah tempat perakitan senjata, sedangkan tiga orang lain masing-masing berperan sebagai penjual.

    "Senjata api yang dijual dengan beragam harga. Mulai dari Rp10 juta hingga Rp25 juta," jelasnya.

    Tak hanya senjata api, polisi juga menyita ratusan butir amunisi. Termasuk mesin bor, alat pres laras senjata, hingga pipa.

    Para pelaku ditahan di sel Mapolda Sulsel untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Mereka disangkakan Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 15 Tahun 1951, juncto Pasal 55 KUHPidana.

    "Ancaman hukumannya penjara maksimal seumur hidup," jelas dia.



    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id