Hakim Tolak Keberatan Terdakwa Kasus Salah Transfer

    Amaluddin - 04 Maret 2021 16:52 WIB
    Hakim Tolak Keberatan Terdakwa Kasus Salah Transfer
    Proses sidang sela kasus salah transfer uang Rp51 juta oleh mantan pegawai BCA di Pengedilan Negeri Surabaya, Kamis, 4 Maret 2021. Medcom.id/Amaluddin



    Surabaya: Terdakwa kasus salah transfer, Ardi Pratama, menjalani sidang putusan sela di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Jawa Timur. Dalam sidang ini, majelis hakim menolak nota keberatan yang diajukan kuasa hukum Ardi, R. Hendrix Kurniawan.

    "Jadi keberatan penasehat hukum terdakwa ditetapkan tidak diterima. Pemeriksaan dan persidangan kasus dilanjut Selasa pekan depan," kata Hakim Ketua, Ni Made Purnami, saat memimpin sidang, Kamis, 4 Maret 2021.






    Baca: Istri Syekh Ali Jaber Minta Terdakwa Penusukan Dibebaskan

    Pertimbangan majelis hakim tidak menerima nota keberatan tersebut lantaran yang diajukan tidak termasuk dalam materi yang dipertimbangkan. Ditambah lagi eksepsi dari pihak kuasa hukum terdakwa dinilai tidak berdasar hukum.

    "Menyatakan keberatan dari kuasa hukum terdakwa tidak diterima. Penuntut umum melanjutkan pemeriksaan perkara atas nama terdakwa Ardi. Menangguhkan biaya perkara sampai dengan keputusan," jelas Purnami.

    Usai sidang, Kuasa Hukum Ardi, R. Hendrix Kurniawan, mengaku menghormati keputusan majelis hakim. Pihaknya bersiap untuk agenda sidang berikutnya pada Selasa, 9 Maret 2021, yakni sidang saksi dan pembuktian.

    "Kita upayakan (terdakwa) Ardi bebas murni," jelas Hendrix.

    Selain menyiapkan persidangan, Hendrix juga mengajukan penangguhan penahanan Ardi kepada majelis hakim. Keluarganya siap menjadi penjamin dan Ardi saat ini ditahan di Rutan Klas 1 Surabaya, Medaeng, Surabaya, di Sidoarjo.

    "Alasan penangguhan karena dia tulang punggung keluarga, punya tiga anak yang masih kecil-kecil," kata Hendrix.

    Sementara Nur Chuzaimah, 56, mantan pegawai BCA selaku pelapor menyatakan dirinya terpaksa melaporkan Ardi lantaran tidak ada iktikad baik. Nur mengaku sudah dua kali dipertemukan polisi di Mapolrestabes Surabaya untuk mediasi, namun tidak ada titik terang.

    "Saat pertama bertemu di Polrestabes Surabaya, dia berjanji akan mengembalikan uang Rp51 juta itu, tapi saya tunggu-tunggu gak ada kejelasan. Lalu ketemu lagi, dia berjanji lagi sampai sekitar lima bulan gak ada kejelasan juga, hingga akhirnya saya memutuskan kasus dilanjut," ungkap Nur.


     

    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id