Pasar Wajan Tuntang, Rujukan Berbelanja Alat Masak Berharga Miring

    Inibaru - 30 Juli 2020 14:52 WIB
    Pasar Wajan Tuntang, Rujukan Berbelanja Alat Masak Berharga Miring
    Inibaru / Sepi, Pedagang Pasar Wajan Tuntang Hanya Bisa Menyangga Dagu Senin, 27 Jul 2020 11:00 whatsapp sharing button Whatsapp facebook sharing button Share twitter sharing button Tweet Sepi, Pedagang Pasar Wajan Tuntang Hanya Bisa Menyangga Dagu Siti
    Semarang: Jika melintas di Jalan Fatmawati, Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah kamu bakal melihat deretan warung semi permanen yang menjajakan berbagai alat masak. Dalam bahasa Jawa, berbagai peralatan masak ini disebut sebagai abrak. Namun karena kebanyakan yang dijual berupa wajan atau penggorengan, deretan warung ini disebut denegan Pasar Wajan.

    Ya, Pasar Wajan yang terdiri dari belasan warung ini sudah belasan tahun berdiri di sekitar jalan protokol menuju Kota Salatiga tersebut. Tak hanya alat masak, semakin ke sini berbagai produk gerabah seperti kendi atau tungku dari tanah liat juga dijajakan di sana. Tak jarang, para pedagangnya juga menjajakan miniatur truk terbuat dari kayu.

    Namun begitu deretan warung tersebut tetap disebut sebagai pasar wajan. Menurut Siti Sahiroh, pasar wajan ini ada begitu saja karena ada salah satu pedagang yang berjualan berbagai alat masak. Karena laris, beberapa pedagang lain pun mengikuti.

    “Lainnya ikutan karena terlihat laris, sekarang jadi banyak pedagang,” tutur perempuan yang sudah berjualan sekitar 10 tahun tersebut.

    Pasar Wajan Tuntang, Rujukan Berbelanja Alat Masak Berharga Miring
    Berbagai peranti masak yang dijual di pasar wajan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

    Perbagai perkakas tersebut rata-rata berasal dari wilayah Boyolali. Namun ada juga dari wialayah Solo, tergantung bahan bakunya. Namun yag menjadi ciri khas pasar wajan adalah produk penggorengan yang terbuat dari aluminium.

    “Wajan aluminium yang banyak dicari,” tutur pedagang lain, Widayati.

    Karena dibuat secara manual, wajan aluminium punya ciri khas. Penampilannya yang mengkilat bertabur motif yang berasal dari ketukan tukang pembuat wajan sehingga membentuk pola yang unik. Ukurannya pun bermacam-macam, dari diameter belasan senti hingga wajah superjumbo berdiameter 80 sentimeter. 

    Harganya pun tentu menyesuaikan ukuran. Wajan aluminium dengan diameter paling kecil dijual dengan harga Rp25 ribu. Sedangkan wajan paling besar yang lazimnya digunakan untuk memasak di hajatan atau katering berharga sekitar Rp 750 ribu – Rp 850 ribu.

    Salah satu salah satu alasan pasar wajan ini populer di kalangan masyarakat di Salatiga dan sekitarnya adalah lengkapnya pilihan yang ada. Selain wajan, ada pula panci, kukusan hingga alat masak kecil seperti serok dan spatula. Cocok banget untuk belanja peralatan masak dalam satu tempat.

    Menopang dagu

    Di depan warungnya, Siti Sahiroh memandangi jalanan dengan tatapan kosong. Sebuah mobil carry reyot bersuara berisik kemudian membuyarkan lamunannya. Tampaknya mobil tersebut adalah milik produsen wajan asal Boyolali langganan Siti Sahiroh. Dengan lunglai perempuan ini menolak penawaran si produsen.

    Semakin ke sini, perempuan yang sudah berjualan di lokasi tersebut lebih dari satu dekade ini mengaku dagangannya sepi. Saban hari, waktunya lebih banyak digunakan untuk membersihkan peralatan masak yang dijualnya dari debu. Maklum, tokonya berada tepat di pinggir jalan Fatmawati, Tuntang, sehingga membuatnya cepat berdebu.

    Sayangnya, kepadatan Jalan Fatmawati yang dulu membuatnya mudah menjajakan produknya kini tak lagi dia temui. Semenjak adanya tol, Sahir mengaku jualannya mendadak sepi.

    Beberapa waktu lalu, deretan warung penjaja berbagai perkakas memasak yang dikenal dengan sebutan Pasar Wajan ini sempat moncer. Berbagai kendaraan dari dalam dan luar kota kerap mampir untuk membeli perkakas di sana.

    Pasar Wajan Tuntang, Rujukan Berbelanja Alat Masak Berharga Miring
    Berbagai peranti masak yang dijual di pasar wajan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

    Kini, keadaan begitu berbeda. Sahir dan beberapa pedagang lain harus lebih bersabar untuk menanti datangnya para pembeli. Bahkan Sahir mengaku sering nggak dapat uang sepeserpun dalam sehari.

    “Kadang enggak dapat uang sama sekali. Mau kulakan dagangan kadang enggak bisa karena enggak dapat uang,” ungkap perempuan 56 tahun ini.

    Kini berbagai perkakas lama masih menggantung dan tergeletak begitu saja tanpa disentuh pembeli. Sukar baginya untuk menjualnya dengan cepat dan membelikan dagangan yang baru. Padahal dirinya mengaku untung yang dia dapatkan dari berjualan tak seberapa.

    “Waktu lockdown nggak ada yang lewat, jalanan sepi,” ungkap perempuan tambun ini.

    Pasar Wajan Tuntang, Rujukan Berbelanja Alat Masak Berharga Miring
    Salah satu pedagang di pasar wajan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

    Situasi yang sama tak hanya dialami olehnya. Widayati, seorang pedagang di toko yang lebih kecil mengaku pendapatannya semakin nggak menentu.

    “Enggak menentu, kadang cuma bisa jual cobek, kadang ya ada juga yang beli wajan,” ungkapnya.

    Zaman memang berubah, keduanya hanya sebagian kecil dari belasan pedangang yang ada di lokasi yang sama. Selain adanya perpindahan jalur dan dampak pandemi, mereka mungkin nggak menyadari bahwa kini orang-orang lebih suka berbelanja daring. (Zulfa Anisah/Inibaru)



    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id