Kelompok Difabel di Sleman Bikin APD untuk Tim Medis

    Ahmad Mustaqim - 27 Maret 2020 10:17 WIB
    Kelompok Difabel di Sleman Bikin APD untuk Tim Medis
    APD produksi kelompok Difabel untuk tim medis tangani pasien terjangkit korona. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
    Yogyakarta: Iswanto tampak sibuk meniti celah hasil jahitan alat pelindung diri (APD) yang akan dipakai petugas kesehatan menangan pasien terinfeksi virus korona (covid-19). Warga Dusun Tonggalan, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini berkontribusi menjaga kesehatan tim medis di garda depan menghadapi pandemi virus korona.

    "Ini menggarap pesanan APD dari (rumah sakit) PKU Muhammadiyah Yogyakarta," kata Iswanto ditemui pada Kamis, 26 Maret 2020.

    Iswanto sebetulnya sedang menganggur. Namun, salah satu lelaki difabel di Kabupaten Sleman ini mendapatkan tawaran memproduksi APD dari Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah. Tawaran ini muncul saat berita kurangnya APD petugas medis di berbagai daerah, termasuk DIY.

    Pihak MPM Muhammadiyah menjadi penjembatan antara RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dengan kelompok difabel. Pihak kelompok difabel ini tanpa ragu menyatakan kesanggupan.

    "Sudah dua hari ini kelompok difabel (Kecamatan) Ngaglik menjahit APD. Kami berbagi tugas dengan (difabel yang lain)," kata Iswanto.

    Yang memuat APD anggota kelompok simpan pinjam difabel. Sejumlah anggota kelompok simpan pinjam ini memang memiliki keterampilan, salah satunya menjahit. Total, ada 60 anggota koperasi itu.

    "Kami koordinasi dengan PKU Muhammadiyah Jogja. Semula kami kasihkan sampel. Setelah dinyatakan sesuai standar dengan supervisi mereka, (produksi APD) lanjut," ujarnya.

    Baca: Pentingnya Asupan Protein untuk Tim Medis Penanggulangan Covid-19

    Ada 10 orang yang berperan menjahit APD berbahan kain spunbond ini. Difabel yang lain membagi tugas menyiapkan pola dan memotong kain itu.

    Prose penjahitan dilakukan di rumah-masing sejak Rabu, 25 Maret 2020. Mereka tetap melakukan jaga jarak fisik dengan siapapun. Setelah APD selesai dihajit baru dikumpulkan.

    "Kami membuat 800 APD sesuai pesanan (PKU Muhammadiyah Yogyakarta). Ini merupakan order pertama. Per satuan (APD) harganya (produksi di luar kain) Rp25 ribu," tuturnya.

    Iswanto mengaku tak ada kesulitan berarti dalam proses produksi APD. Hanya saja, ketelitian dibutuhkan karena kain yang dijahit sangat tipis. Apabila salah perhitungan, hasil jahitan bisa tidak rapat, bahkan lepas.

    Para difabel itu akan terus memproduksi hingga pesanan 800 APD terpenuhi. Mereka baru menyusun hasil produksi APD setelah proses menjahit selesai. Dalam sehari, Iswanto memperkirakan setip orang bisa membuat hingga tujuh APD.

    "Ini kan kerja sama. Rp25 ribu ini Rp1.000 nanti masuk kas koperasi, sisanya biaya jasa menjahit,” terangnya.

    Pengurus MPM Muhammadiyah DIY, Ahmad Ma’ruf,  mengatakan tahap produksi pertama ini baru melayani PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Ia menyebut sudah ada individu dan satu perusahaan yang memesan.

    Dia mengaku ongkos produksi lebih rendah ketimbag membeli APD jadi, yang harganya  mencapai Rp200 ribu per satu APD. Pihaknya juga tengah berkoordinasi dengan PKU Muhammadiyah Bantul dalam konteks serupa.

    "Kalau ada order lain, bisa menjual Rp100 ribu per satuan. Ini program kepedulian teman-teman difabel dan bisa menciptakan lapangan kerja. Beberapa yang kekurangan job telah ada job sekarang," ucapnya.

    APD produksi kelompok Difabel untuk tim medis tangani pasien terjangkit korona. Medcom.id/Ahmad Mustaqim




    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id