4 Helikopter Memadamkan Kebakaran Lahan di Kalsel

    Antara - 24 Agustus 2020 16:31 WIB
    4 Helikopter Memadamkan Kebakaran Lahan di Kalsel
    Ilustrasi. Medcom.id
    Banjarmasin: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan mengoperasikan empat helikopter water bombing, untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pada Senin, 24 Agustus 2020. 

    "Lahan yang terbakar tidak bisa dijangkau Satgas Darat, maka kami kerahkan helikopter untuk melakukan pemadaman," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalsel Sahruddin, Senin, 24 Agustus 2020, melansir Antara.

    Dia mengatakan, ada empat titik kebakaran lahan yang tidak bisa dijangkau Satgas Darat yaitu dua lokasi di Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, satu di Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar dan satu di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

    "Saat ini upaya pemadaman dan pembasahan terus dilakukan. Teman-teman di darat juga menuju lokasi yang masih bisa dijangkau kendaraan," jelasnya.

    Baca: Belasan Titik Api Muncul di Kalimantan Selatan

    Pihaknya menyiagakan empat helikopter water bombing dan dua helikopter patroli yang tergabung dalam Satgas Udara penanggulangan karhutla. Helikopter dioperasikan jika titik api tak bisa dijangkau kendaraan oleh Satgas Darat yang merupakan tim gabungan BPBD Kalsel, Manggala Agni Dinas Kehutanan Kalsel dan Damkar.

    Dia menerangkan, kebakaran lahan mulai terjadi dalam satu pekan terakhir. Hal itu, kata dia, sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa Kalsel mulai memasuki puncak kemarau sehingga lahan kering rawan terbakar.

    "Hari ini terpantau ada 32 hotspot. Biasanya jika tak ada hujan, sekitar pukul 11.00 Wita ke atas ada muncul titik api di mana lahan mulai kering dan mudah terbakar," jelasnya.

    Dia memastikan, kebakaran terjadi bukan karena ulah manusia. Tapi, imbuhnya, terbakar sendiri karena faktor alam. 

    Sementara itu, terkait terbakarnya lahan di Desa Pandahan, Kecamatan Bati-Bati, yang terus terjadi setiap tahun pada musim kemarau, menurut Sahruddin cukup sulit dicegah. Lanaran merupakan lahan tidur yang ditumbuhi rumput. 

    "Kalau lahan dimanfaatkan untuk perkebunan atau pertanian mungkin bisa terjaga. Sekarang ini yang punya lahan juga tidak memelihara sehingga orang bebas misalnya keluar masuk lahan tidak bisa dikontrol," tukasnya.

    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id