Guru Honorer Asal Sukabumi Lumpuh, Tak Terbukti Gagal Vaksinasi Covid-19

    Roni Kurniawan - 04 Mei 2021 14:53 WIB
    Guru Honorer Asal Sukabumi Lumpuh, Tak Terbukti Gagal Vaksinasi Covid-19
    Susan Antela, tengah, saat dikunjungi Kantor Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi bersama tenaga pendidikan lainnya. (Foto istimewa)



    Bandung: Komite Daerah (Komda) Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Jawa Barat memastikan dugaan KIPI berat usai menerima vaksinasi Covid-19 terhadap Susan Antela, 31, guru honorer SMA di Kabupaten Sukabumi tidak terbukti berhubungan dengan vaksin.

    Susan didiagnosa menderita Guillain-Barre Syndrome atau GBS yang merupakan penyakit saraf yang jarang ditemukan. Susan mengalami penglihatan yang buram usai 12 jam mendapatkan imunisasi covid-19 pada awal April lalu kemudian anggota geraknya pun melemah sehingga dilarikan ke Rumah Sakit dan mendapatkan perawatan selama 23 hari.






    Ketua Komda KIPI Jabar, Dr Prof Kusnandi Rusmil, mengatakan, berdasarkan hasil audit Komnas KIPI 30 April 2021, setelah menjalani perawatan dan rangkaian pemeriksaaan dengan CT Scan torax (dada), darah dan saraf, SA diagnosa GDS.

    “Hasil audit Komnas KIPI, SA 31 tahun wanita mengalami keluhan mata buram dan kelemahan  anggota gerak. Mata buram perlahan 12 jam pasca imunisasi, dilakukan rujukan ke RS selama 23 hari dari 1 hingga 23 April. SA sudah menjalani CT scan torax, darah dan fungsi sarafnya dan didiagnosa GBS,”ujar Kusnandi di Bandung, Selasa, 4 Mei 2021.

    Saat ini, lanjut Kusnandi, kondisi Susan sudah membaik. Penglihatanya sudah berangsur membaik, dan minggu depan akan kembali kontrol. 

    Baca: RS Hasan Sadikin Investigasi Kasus Guru Lumpuh Usai Vaksinasi

    Kusnandi menegaskan, masih dari hasil audit Komnas KIPI, saat ini belum ditemukan bukti yang kuat mengenai keluhan gejala klinis SA terkait vaksin berdasarkan dari hasil surveilen KIPI dan Kejadian Ikutan dengan Perhatian Khusus (KIPK). Sampai 21 April 2021, sudah 20 juta dosis vaksin diberikan pada warga Indonesia dan tidak ditemukan keluhan gejala klinis serupa yang dilaporkan, termasuk dari uji klinis vaksin covid-19 tahap 1 hingga 3.

    “Kesimpulannya belum cukup bukti untuk menyatakan antara hubungan mata buram dan kelemahan anggota gerak dengan vaksinasi Covid-19,” ucap dia.

    Kusnadi mengatakan, Susan sudah terinfeksi virus penyebab GBS dua minggu sebelum vaksin tanpa gejala apapun sehingga tidak terdeteksi saat skrining sebelum vaksinasi. Buramnya penglihatan dan juga lemahnya anggota gerak secara kebetulan terjadi usai Susan mendapatkan vaksin. 

    “Kalau ada reaksi vaksin yang berat itu dari 1 juta orang yang divaksinasi hanya satu orang yang mengalami tapi itu masih bisa disokong yang lainnya dan terlindungi. Namun efek samping tersebut sangat kecil dibanding dengan manfaat yang akan dirasakan dengan diimunisasi, yaitu lebih banyak keuntungannya,” ungkap Kusnandi.


    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id