Pelecehan Siswi di Sulut Melampaui Batas Wajar

    Media Indonesia - 12 Maret 2020 09:54 WIB
    Pelecehan Siswi di Sulut Melampaui Batas Wajar
    Ilustrasi. (Foto: Medcom.id)
    Jakarta: Kasus pelecehan seksual yang dilakukan lima pelajar SMK terhadap teman sekelasnya, SG, di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, dinilai sebagai bentuk perundungan oleh grup dan telah melampaui batas kewajaran. Para pelaku yang terdiri atas dua siswi dan tiga siswa merupakan teman sekelas korban.

    Dalam video berdurasi 40 detik yang beredar di media sosial, korban berseragam putih abu-abu itu terbaring di lantai dan dipegangi para pelaku. Pengamat sosial dari Universitas Indonesia (UI) Rissalwan Habdy Lubis menyatakan peristiwa itu harusnya menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan dan juga para orangtua.

    "Biasanya, kelompok teman sebaya usia remaja yang bercanda mengarah kepada tendesi seksual adalah kelompok jenis kelamin sejenis, laki-laki dengan laki-laki, dan perempuan dengan perempuan. Dalam kasus ini, dilakukan oleh lima orang yang berbeda jenis kelamin dan juga dengan nekatnya mereka rekam," kata Rissalwan, Rabu, 11 Maret 2020.

    Baca juga: Pelaku Pelecehan Siswi SMK di Bolaang Mongondow Ditangkap

    Secara sosiologis, kata dia, kelima pelaku sedang berusaha mencari perhatian dengan cara melakukan amplifikasi sosial lewat rekaman audiovisual di media sosial. Amplifikasi sosial bermacam-macam tujuannya, misalnya, ingin mendapatkan pengakuan eksistensi sebagai grup teman sebaya berpengaruh atau bisa saja sebagai bentuk pernyataan kelompok superordinat terselubung yang sedang 'mengumumkan' legitimasinya sebagai kelompok perundung yang patut diperhitungkan.

    Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Rita Pranawati, mengaku tidak habis pikir dengan peristiwa tersebut. Sekolah ataupun orangtua mestinya bisa mendeteksi lebih awal perilaku anak sehingga aksi perundungan tidak menjadi sebuah tindak kekerasan.

    Baca juga: Video Pelecehan Siswi SMK di Bolmong Disebar Pelaku

    "Maksudnya bercanda, padahal itu menyakiti. Padahal, batas nilai tentang menyakiti orang dengan bercanda itu kan ada batasannya. Kalau di rumah dan di sekolah sering diingatkan, tidak boleh lo itu menyakiti orang lain, itu pelecehan, harusnya kan sudah tahu. SMK kan sudah besar, harusnya sudah pada titik itu," ujar dia.

    Dalam hal ini, ada beberapa faktor yang menjadi pemicu, antara lain ketiadaaan empati akibat kurang perhatian dari orang tua, tidak diajari tentang batasan-batasan dalam bersikap, dan kurangnya pengawasan sekolah. Untuk menumbuhkan rasa empati terhadap sesama pada diri anak, Rita menyarankan agar anak diajak melakukan kegi-atan sosial.

    "Pergi ke panti, ke desa, ke rumah orang yang membutuhkan, biar punya rasa empati," kata dia.



    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id