19,9 Juta Anak Rentan Tertular Penyakit

    Palce Amalo - 08 Desember 2019 14:00 WIB
    19,9 Juta Anak Rentan Tertular Penyakit
    Ilustrasi--Petugas medis melakukan imunisasi difteri pada siswa di Sekolah Dasar Tanjungrejo 2, Malang, Jawa Timur. (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto)
    Makassar: Sedikitnya 19,9 juta anak rentan tertular penyakit karena tidak mendapatkan imunisasi lengkap pada 2018. Angka itu sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara penyumbang jumlah anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap di seluruh dunia.

    Kepala Seksi Imunisasi Dasar Kementerian Kesehatan, Syamsu Alam, mengatakan, anak yang tidak diimunisasi lengkap tidak memiliki kekebalan sempurna terhadap penyakit berbahaya. Akibatnya, anak mudah tertular penyakit dan menderita sakit berat.

    "Selain itu, mereka juga menjadi sumber penularan penyakit bagi orang lain," ujarnya di Makassar, Minggu, 8 Desember 2019.

    Dia menyebut pada 2018, cakupan imunisasi dasar lengkap bawah 80 persen terdapat di sembilan provinsi. Jumlah ini bertambah dari tujuh provinsi pada 2017.

    Selanjutnya, cakupan imunisasi antara 80-92 persen juga berkurang dari 12 provinsi pada 2017 menjadi 10 provinsi pada 2018, dan cakupan imunisasi di atas 92,5 persen sebanyak 15 provinsi. Sedangkan pemerintah menetapkan cakupan imunisasi harus mencapai angka 95 persen.

    Syamsu membeberkan cakupan dasar imunisasi lengkap per 21 November 2019. terdiri dari 17 provinsi di bawah 60 persen, 16 provinsi antara 60-77,5 persen, dan satu provinsi di atas 77,5 persen. Akumulasi anak yang tidak mendapatkan imunisasi rutin lengkap berdampak terhadap tidak terbentuknya kekebalan kelompok (komunitas) atau herd immunity.

    "Imunisasi bukan hanya bermanfaat bagi individu tetapi juga memiliki manfaat sosial," tambahnya.

    Terkait kondisi ini Kementerian Kesehatan, kata Syamsu, dihadapkan pada beberapa kondisi dan tantangan. Di antaranya bias informasi yang berujung pada munculnya anggapan di masyarakat bahwa vaksin measles and rubella (MR) bertentangan dengan nilai-nilai agama.

    Kemudian, lanjut dia, kondisi geografis yang menyulitkan petugas kesehatan menjangkau daerah-daerah terpencil.

    "Muncul fenomena di masyarakat menolak imunisasi. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap vaksin menurun. Ada faktor politik, sejarah, hingga emosional," kata dia.

    Akan tetapi, lanjut dia, dua persoalan tersebut telah diatasi dengan menggandeng tokoh-tokoh agama. Sedangkan daerah yang sulit dijangkau diatasi dengan menjangkaunya menggunakan helikopter.

    "Jangan biarkan kuman penyakit menyerang anak-anak kita, berikan imunisasi lengkap," jelasnya.

    Ia menambahkan imunisasi lengkap terdiri dari imunisasi dasar bagi bayi, imunisasi lanjutan bagi bayi di bawah dua tahun, dan imunisasi lanjutan bagi anak usia sekolah dasar (SD). Ada tujuh imunisasi dasar yakni hepatitis b (infeksi virus pada hati), tuberculosis (tbc), difteri, pertusis (batuk rejam atau batuk 100 hari), tetanus, polio, infeksi paru otak dan telinga tengah, campak dan rubela (MR). Sedangkan imunisasi lanjutan terdiri dari DPT Polio-polio-hib dan MR pada usia 18-24 bulan.

    Selanjutnya imunisasi MR dan DT (difteri-tetanus) saat anak duduk di kelas 1 SD, dan imunisasi DT saat duduk di kelas 2 SD. Imunisasi TD dan HPV (kanker leher rahim) saat anak duduk di kelas V SD, dan terakhir imunisasi HPV saat anak duduk di kelas 6 SD.




    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id