Cerita Pohon Literasi Pulau Gili Genting

    Rahmatullah - 30 September 2019 16:05 WIB
    Cerita Pohon Literasi Pulau Gili Genting
    Dua anak sedang asyik membaca di bawah pohon literasi di Pulau Gili Genting Sumenep - Medcom.id / Rahmatullah
    Sumenep: Edi Sugianto, 35, resah melihat kedua anaknya kerap bermain gim di ponsel. Keduanya terpengaruh teman sebayanya yang membawa gadget saat berkunjung ke rumah.

    Warga Desa Banbaru, Kecamatan (Pulau) Gili Genting, Sumenep, Jawa Timur itu pun mencari cara agar kedua anaknya Mohammad Hilal Akbar, 6, dan Hilma Ainun Nazila, 11, tidak disibukkan dengan gadget tersebut. Hingga akhirnya ia menemukan cara tepat untuk menggiring anaknya lambat laun meninggal gadget, yaitu membuat pohon literasi.

    "Kalau teman-teman anak saya datang ke sini, itu sudah pasti untuk main HP," kata Edi, Senin, 30 September 2019.

    Suami Titin Yuliatin, 34, itu sebenarnya sudah mengajak anak-anak tersebut membaca koleksi bukunya. Tetapi ajakan itu tidak digubris. Sehingga puluhan buku di dalam rumahnya dibawa keluar, dan diletakkan di kotak kayu bekas sangkar burung lovebird yang dipaku ke pohon ceri. 

    "Saya namakan itu sebagai pohon literasi. Ide itu sebelumnya saya komunikasikan dengan penggagas Rumah Baca Titisan Agung Demang di desa ini, dan mendapatkan dukungan," ujarnya. 

    Di bawah pohon ceri itu diberi lincak dari anyaman bambu. Edi mengaku meminta lincak tersebut dari tetangga yang sudah tidak digunakan. Ternyata yang dilakukan itu membuat anak-anak tertarik untuk membaca buku. Edi bersyukur anaknya dan teman sepermainan terbiasa membaca buku sebelum bermain gadget.

    Edi bahkan mewajibkan anak-anak membaca 30 menit sebelum bermain gadget. Katanya, tiap hari minimal lima anak yang berkunjung ke rumahnya. Dia pun mengaku menyita gadget yang dibawa anak-anak tersebut, lalu diberikan kembali setelah anak-anak itu selesai membaca buku. Dia bersyukur kebiasaan tersebut sudah berlangsung hampir tiga bulan.

    "Jadi wajib hukumnya baca buku bagi anak siapa pun kalau mau main ke sini. Saya bersyukur anak saya sendiri sudah mulai senang membaca," akunya. 

    Selain itu, kata Edi, tiap hari rumahnya selalu ada pengunjung, karena mertuanya berprofesi sebagai penjahit pakaian. 

    Para pengunjung itu dengan sendirinya mengambil buku yang ada di pohon literasi. Edi menduga pengunjung tersebut penasaran dengan buku yang diletakkan di pohon tersebut.

    "Kepada para pengunjung itu, saya minta agar anaknya suruh main ke sini biar juga ikut membaca," ujarnya.

    Saat ini buku yang disediakan di pohon literasi itu rata-rata untuk pembaca yang sudah dewasa. Edi mengaku masih perlu menambah koleksi bacaan berbentuk komik, karena jenis bahan bacaan itu disenangi anak-anak. 

    Meski demikian, ia berharap kemampuan membaca anak-anak itu semakin lancar dengan membaca buku-buku bacaan orang dewasa meski tidak paham isinya.

    Dia berencana mengembangkan perpustakaan tersebut dengan membuat angkringan, termasuk koleksi buku. Bahkan yang paling penting, katanya, yaitu membuat atap seng untuk menutupi kotak buku tersebut, karena dimungkinkan dalam waktu dekat bakal memasuki musim hujan.

    "Koleksi buku ini sumbangan dari ponakan saya, termasuk buku-buku saya sendiri," ungkapnya.

    Awalnya warga sekitar menganggap aneh pohon literasi tersebut. Edi menganggap itu wajar, karena warga dianggap belum memahami utuh maksud dibikinnya pohon literasi itu. Tapi sekarang warga sudah merasa biasa. Bahkan anaknya ikut membaca buku koleksi pohon literasi tersebut. 

    Sementara Pendiri Rumah Baca Titisan Agung Demang, Kurdianto Al Laily, mengaku mensupport penuh keberadaan pohon literasi itu. Bila dibutuhkan, sebagian buku-buku di rumahnya bakal disumbangkan. Dia bersyukur ada warga yang juga peduli terhadap gerakan gemar membaca. Dia berharap muncul sosok lain yang juga peduli terhadap gairah membaca.

    "Saya bilang ke dia untuk marani buku di rumah. Dia kan juga relawan Rumah Baca Titisan Agung Demang. Saya senang ada orang yang juga peduli keberlangsungan membaca," urainya. 

    Kurdi berharap semua warga di desanya gemar membaca buku. Selain mendukung pohon literasi, Kurdi sudah menginisiasi berdirinya lima perpustakaan di desanya. Kelima perpustakaan tersebut sudah aktif semua. Dia yakin desanya akan semakin maju bila warganya senang membaca. 

    "Kalau pengelolaan perpustakaan di rumah, sudah saya pasrahkan kepada dua ponakan yang masih siswa. Syukur mereka sekarang sudah keranjingan membaca," katanya.

    Tidak hanya mementori pendirian perpustakaan, Kurdi juga membawa buku saat menumpang perahu motor ketika ada keperluan ke daratan. Di dalam perahu itu, Kurdi membagikan buku ke penumpang lain yang dibawanya menggunakan kardus. Buku tersebut kembali diambil setelah perahu tiba di tempat yang dituju. Rata-rata yang disukai penumpang berbau fiksi seperti novel.

    Ke depan, Kurdi berencana membeli motor untuk perpustakaan keliling. Dia ingin menggelorakan gerakan gemar membaca ke rumah-rumah, sehingga budaya literasi dalam keluarga terbangun. Dia sadar gerakan yang dibangun dengan mendirikan sejumlah perpustakaan itu belum seberapa, karena hal itu masih bersifat pasif. 

    Kurdi yakin geliat membaca akan semakin tumbuh di masyarakat bila didatangi ke rumahnya. Jika nanti motor itu sudah ada, dia akan keliling secara bergantian dengan relawan lain ke rumah-rumah warga. Dia juga akan menyasar tempat strategis, seperti pasar, untuk mengampanyekan gemar membaca. 

    "Saya ingin budaya literasi ini terbangun di tiap keluarga, sehingga masyarakat keseluruhan tidak lepas dari buku tiap hari," harapnya.




    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id