Kaleidoskop 2019: Pisau Teroris Koyak Perut Wiranto

    Deny Irwanto - 24 Desember 2019 15:30 WIB
    Kaleidoskop 2019: Pisau Teroris Koyak Perut Wiranto
    Istimewa
    Jakarta: Mantan Menteri Koordinasi bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto ditusuk di Alun-alun Menes Pandeglang, Banten, Kamis, 10 Oktober 2019. Seseorang yang diketahui bernama Syahrial Alamsyah alias Abu Rara saat itu merangsek pengamanan tak lama setelah Wiranto keluar dari mobil dinasnya.

    Wiranto mengalami luka di bagian perut sebelah kiri. Dia ditusuk dengan pisau ninja. Pisau berujung runcing itu menjadi senjata standar ninja selain makibishi dan shuriken. Senjata ini berukuran 10-15 sentimeter dan kerap disembunyikan di balik baju.

    Selain Wiranto, tiga orang lainnya ikut terluka. Mereka, Kapolsek Menes, Tokoh Masyarakat Menes Fuad Sauki, dan ajudan Danrem.

    Ngenes di Menes

    Wiranto tiba di alun-alun Menes, Desa Purwaraja, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis, 10 Oktober 2019, pukul 08.57 WIB. Dia kemudian menuju Universitas Mathlaul Anwar di Jalan Raya Labuan, Kampung Cikaliung, Desa Sindanghayu, Kecamatan Saketi, kabupaten Pandeglang, Banten.
     
    Pada pukul 09.17 WIB, Wiranto tiba di Universitas Mathlaul Anwar untuk menghadirkan peresmian gedung perkuliahan. Kapolda Banten Irjen Tomsi Tohir mengatakan Wiranto mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

    Sekitar pukul 11.55 WIB, Wiranto kembali ke alun-alun Menes untuk kembali ke Jakarta. Polisi sudah merintangi masyarakat yang membeludak di alun-alun Menes.
     
    "Namun ada dua anggota masyarakat yang bersama masuk ke dalam barometer untuk melukai beliau, tapi coba dicegah juga oleh kapolsek dan ajudan," ujar dia.
     
    Wiranto kemudian langsung dibawa ke RSUD Berkah Pandeglang. Tomsi memastikan kondisi Wiranto stabil.
     
    Wakil Presiden Jusuf Kalla saat itu menyebut pengamanan menteri sudah sesuai standar operasional prosedur. Kalla tak menyangka masih ada warga yang berniat menyakiti pejabat negara.
     
    "Kami tidak sangka, ini pertama kali ini, ada orang yang mencederai pejabat dengan tikaman," kata JK di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Kamis, 10 Oktober 2019.

    Tak kapok blusukan

    Usai kejadian itu, Presiden Joko Widodo memerintahkan pengamanan ketat pada pejabat negara. Jokowi tak ingin insiden penyerangan pada para pembantunya terulang.
     
    Pengamanan tambahan diperlukan meski selama ini pejabat negara selalu dikawal aparat. Ia ingin aparat lebih waspada setiap kali para menteri dan kepala lembaga negara kunjungan kerja ke daerah.

    Penambahan pasukan pengamanan tidak diberlakukan bagi Presiden. Pasalnya, pasukan pengamanan presiden (paspampres) sudah menerapkan standar risiko tinggi.
     
    Jokowi tidak bakal mengubah kebiasaan berswafoto dengan masyarakat saat blusukan ke daerah. "Masihlah, selfie saja enggak apa-apa," kata dia.






    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id