Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Tasikmalaya Meningkat

    Media Indonesia.com - 15 November 2020 18:39 WIB
    Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Tasikmalaya Meningkat
    Ilustrasi. (Foto: Medcom.id)
    Tasikmalaya: Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPMDP3AKB) Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mencatat terdapat 55 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak pada 2020. Jumlah ini mengalami peningkatan dibanding tahun lalu.

    Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada DPMDP3AKB Kabupaten Tasikmalaya, Yayah Wahyuningsih, mengatakan, tahun lalu, kasus serupa mencapai 50 kasus.

    "Kasus kekerasan terhadap anak setiap tahun mengalami peningkatan mulai dari 2017 tercatat 47 kasus, 2018 turun, dan 2019 kembali mengalami kenaikan mencapai 50 kasus. Tahun ini, tercatat 55 kasus," katanya, Minggu, 15 November 2020.

    Yayah mengatakan, terkait kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak didominasi kasus kekerasan seksual selain kekerasan dalam rumah tangga (KDRT. Diyakini, masih banyak warga yang tidak mau melapor karena malu.

    "Kekerasan perempuan dalam rumah tangga banyak penyebabnya, mulai dari masalah ekonomi, kemiskinan, budaya, pendidikan, dan perselingkuhan serta perceraian," ujarnya.

    Baca juga: Hampir Separuh Warga Kota Cimahi Tak Punya Akta Kelahiran

    Menurut Yayah, upaya untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak harus dilakukan dengan koordinasi antarkepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda. Hal ini untuk membantu penanganan hingga pendampingan kasus termasuk pembinaan oleh forum anak daerah.

    "Pencegahan sekarang ini masih terus dilakukan sebagai upaya mengurangi terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak. Para tokoh agama agar mereka menjadi panutan yang bisa menyosialisasikan ke masyarakat supaya kekerasan bisa menurun," kata dia.

    Sementara itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto, mengungkapkan kekerasan terhadap anak sekarang ini didominasi oleh pelecehan seksual.

    Di tengah pandemi covid-19 kasus kekerasan terhadap anak naik cukup signifikan terjadi setiap tahun dan itu harus adanya perhatian dari semua pihak.

    "Kalau pola penyelesainnya hanya normatif, artinya harus segera dikembalikan dengan cara gagasan dan ide-ide kreatif terutama pola pikir inovatif. Dalam penyelesaian itu harus bisa mengolaboraskan pola koordinasi yang baik antara lembaga satu dengan yang lain agar bisa mencegah kekerasan terhadap anak supaya mengalami kenaikan setiap tahunnya," jelasnya. (Kristiadi)

    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id