comscore

Sopir Cadangan Bus Maut Tol Sumo Ternyata Kondektur

Clicks.id - 19 Mei 2022 09:37 WIB
Sopir Cadangan Bus Maut Tol Sumo Ternyata Kondektur
Kondisi bus yang hancur setelah menabrak tiang VMS (Variable Message Sign) (Foto/ Metro TV)
Mojokerto: Hasil penyelidikan kasus kecelakaan bus di Jalan Tol Surabaya-Mojokerto (Sumo) KM 712+200/A terus mengungkap fakta baru. Pengemudi bus maut, Ade Firmansyah, ternyata bukan sopir cadangan alih-alih kondektur. Ia mengemudikan bus maut atas inisiatif sendiri.

“Dia ini kenek (kondektur). Pada saat bus itu berhenti istirahat, kewajiban kenek jaga bus, dia enggak boleh ikut tidur. Pengemudinya kan tidur. Kenek itu menjaga bus,” kata Ketua Sub Komite Lalu-lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Ahmad Wildan, Rabu, 18 Mei 2022.
Wildan mengatakan pengemudi bisa tidur di bagasi tapi harus ada yang jaga bus dan barang-barang milik penumpang. Ini merupakan tugas kenek.

Saat berhenti terakhir di Rest Area Ngawi, pengemudi tidur di bagasi belakang dan penumpang meminta untuk berangkat. Karena rasa pertemanan, Ade berinisiatif membawa bus.

Baca juga: Tidur, 6 Saksi Tak Mampu Jelaskan Kronologi Kecelakaan Bus di Tol Sumo 

“Sebenarnya hanya kerena rasa pertemanan saja. Pelaku melihat sopir itu lagi tidur. Kasihan kan subuh, penumpangnya minta berangkat. Mau membangunkan temannya (sopir) enggak enak. Nah waktu saya tanya, Siapa yang memerintahkan anda itu? dia menjawab enggak ada, cuma rasa persahabatan saja. Inisiatif sendiri bawa,” jelasnya.

Wildan menjelaskan, hasil temuan KNKT yakni faktor yang sangat penting menjadi kata kunci adalah waktu kegiatan. Sabtu malam, 14 Mei 2022 berangkat dari Surabaya menuju Dieng, Wonosobo dan Yogyakarta sampai Minggu malam, 15 Mei 2022. Kemudian pada Senin pagi, 16 Mei 2022 sudah di Ngawi. Selama perjalanan itu, kondektur duduk di posisi kursi kecil.

“Kalau pun dia tidur, tidur-tidur ayam. Tidak tidur lelap. Rentang waktu itu sangat cukup untuk membuat orang lelah. Dia, pembantu pengemudinya berinisiatif sendiri. Sudah naik semua, mesin enggak dimatikan karena panas. Ya sudah jalan, inisiatif sendiri. Di situ itu kunci masuk kita akan membuat, mendesain regulasi dan pengawasannya agar hal ini enggak terulang kembali,” katanya.

Menurutnya, ada faktor yang berkontribusi. Dalam suatu kecelakaan, jika faktor tersebut diambil, kecelakaan kerja tidak akan terjadi. Dalam kegiatan wisata para korban ke Dieng, Wonosobo-Yogtakarta dilakukan dalam rentang waktu di luar ambang batas manusia. Jika dipotong dengan istirahat, kecelakaan tidak terjadi.

“Artinya orang itu tidak ngantuk (kenek). Kalau kita lihat dari Undang-undang Ketenagakerjaan, Undang-undang LLAJ maksimal 12 jam tapi diregulasi diatur cuma 8 jam. 4 jam 4 jam, bus tidak boleh dibawa lagi. Aturannya kan begitu. Ini lebih dari 12 jam itu, sudah lebih dari 24 jam malah. Edan,” tegasnya


(MEL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id