Memperkenalkan Batik Bekasi

    Antonio - 09 Agustus 2019 15:24 WIB
    Memperkenalkan Batik Bekasi
    Sejumlah pemuda Warga Negara Asing (WNA) tertarik membuat batik Bekasi, Jumat, 9 Agustus 2019. Medcom.id/ Antonio.
    Bekasi: Sejumlah pemuda Warga Negara Asing (WNA) membatik di tempat bekerja Komunitas Batik Bekasi (Kombas), Perumahan Margahayu Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat, 9 Agustus 2019.

    Satu demi satu proses mereka lakukan dibantu anggota Komunitas Batik Bekasi. Mulai dari mempersiapkan kain, membuat sketsa, cap dengan malam, memberikan warna, penguatan warna, pelorodan malam dengan air panas, pencucian kain hingga menjemur.

    Di tengah-tengah mereka terlihat seorang pria berperawakan Indonesia. Dia adalah Barito Hakim Putera. Pria yang akrab disapa Barito ini merupakan ketua sekalaigus pendiri komunitas tersebut.

    Komunitas itu berdiri tahun 2009. Tepatnya beberapa waktu setelah UNESCO menyatakan bahwa batik merupakan warisan budaya yang dimiliki Indonesia pada 2 Oktober 2009.

    Barito menceritakan dengan adanya pengakuan pernyataan UNESCO, dia bersama sejumlah rekannya melakukan observasi untuk menggali informasi tentang batik di Bekasi.

    Hasilnya ditemukan sekitar 11 pakem batik Bekasi. Yakni, bambu, teratai, rumah adat, bendo, penari adat, kecapi,ikan gabus, rawa, tugu yang ada di Jalan Agus Salim, tugu resolusi dan burung mandar.

    Kemudian dia bersama dengan sejumlah temannya memiliki semangat untuk memperkenalkan batik Bekasi kepada masyarakat. Caranya yakni lewat fashion show dan lomba membatik.

    Respon masyarakat belum terlalu baik kala itu. Barito pun sempat pesimis dengan tujuannya. "Tapi kemudian kita optimis ketika pemkot welcome dan apresiasi ," kata Barito di Bekasi.

    Barito makin gencar menyosialisasikannya batik ke kalangan siswa, lingkungan Pemerintahan, dan masyarakat Kota Bekasi.

    Berjalan hampir sepuluh tahun, komunitas tersebut kini sudah memiliki sekitar 27 pengrajin. Lima independen dan 22 sudah mengikuti pelatihan atau uji kompetensi. Tiga di antara jumlah tersebut merupakan penyandang disabilitas.

    Selain pengrajin, komunitas tersebut kini juga sudah memiliki 30 mitra. Mereka merupakan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

    Beberapa pengrajin Kombas sudah pernah ‘terbang’ ke negara lain untuk pameran sekaligus memperkenalkan Bekasi melalui Batik Bekasi. Seperti ke Moscow dan Belanda .

    Mereka juga kerap kedatangan tamu dari luar daerah di Indoensia maupun dari luar negeri untuk membeli sekaligus belajar  membatik.

    "Yang paling penting melestarikan batik Bekasi," pungkas Bario.



    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id