Pengungsi Ilaga Eksodus ke Timika

    Antara - 01 Oktober 2019 13:20 WIB
    Pengungsi Ilaga Eksodus ke Timika
    Jenazah tukang ojek yang tewas ditembak KKB, Sattiar Bahreini, usai disalatkan di Masjid Al-Kahfi,Timika, Papua. Foto: ANT/Wahyu Putro A
    Timika: Gelombang pengungsi dari Distrik Ilaga, Puncak, Papua, terus berdatangan ke Timika, Papua, pascapenembakan tiga warga sipil beberapa hari lalu. Pantauan Antara di Bandara Mozes Kilangan, Timika, hari ini, jumlah pengungsi yang tiba mencapai puluhan orang. 

    Pada Selasa, 1 Oktober 2019 pagi, hingga siang ini pesawar Dabi Air Nusantara telah tiga kali mengangkut pengungsi dari Ilaga ke Timika. Pada penerbangan pukul 08.30 WIT, pesawat itu mengangkut 15 penumpang, terdiri atas sembilan dewasa dan enam anak-anak.

    Selanjutnya pukul 11.00 WIT pesawat tersebut juga mengangkut sembilan penumpang, terdiri atas tujuh orang dewasa dan dua anak-anak. Pesawat itu juga mengangkut sejumlah brankas berisi uang milik Bank Papua.

    Sementara pada penerbangan terakhir sekitar pukul 12.45 WIT, pesawat Dabi Air Nusantara kembali mengangkut 13 penumpang, terdiri atas sembilan orang dewasa dan empat anak-anak. 

    Seorang warga Ilaga, Alfrida Kana, yang berprofesi perawat di Puskesmas Ilaga mengungkap banyak warga yang ingin mengungsi ke Timika. Kana menyebut Distrik Ilaga masih belum aman.

    "Kondisi di Ilaga tidak aman lagi, cuma saja pesawat yang ke sana kurang," kata Alfrida yang bertugas di Puskesmas Ilaga sejak 2013.

    Dia menuturkan warga kerap mendengar bunyi tembakan senjata api. Namun, suara letusan senjata api tidak terdengar pada Selasa pagi. 

    "Mulai kemarin Puskesmas Ilaga tidak beroperasi lagi karena semua orang takut. Ada puluhan petugas di Puskesmas Ilaga, ada juga dokter," kata Alfrida sambil menggendong putranya, Galio yang berusia 1,5 tahun.

    Warga Ilaga lainnya, Yanti, menuturkan sebagian besar warga terutama non-Papua di Ilaga berharap segera ke luar Ilaga. Mereka menunggu pesawat untuk mengungsi ke Timika. 

    "Tapi pesawat dari Timika tidak berani terbang ke Ilaga karena takut ditembak. Orang-orang asli sana juga pada mengungsi ke Aula Negeler milik Pemda karena mereka juga takut," kata Yanti yang bekerja sebagai pegawai Pemkab Puncak.

    Yanti mengaku sempat mengungsi sementara ke rumah Sekretaris Daerah Kabupaten Puncak pada Sabtu, 28 September 2019 dini hari, pascapenembakan penjaga kios di dekat Bandara Aminggaru Ilaga. Dia mengaku sudah menunggu pesawat untuk mengungsi sejak Sabtu. 

    "Hari Senin, 30 September 2019, kami pergi ke Bandara Ilaga, tiba-tiba ada bunyi tembakan. Teman-teman lain bisa lolos ikut pesawat ke Timika, kami yang lain balik kanan karena tidak dapat penerbangan," ujarnya.

    Pada Kamis, 26 September 2019, dua pengojek ditembak kelompok kriminal bersenjata (KKB) saat melintas di jembatan gantung di kampung Amunggi, Distrik Ilaga Utara. Penembakan terhadap Sattiar alias Midung dan La Ode Alwi menyebabkan keduanya meninggal di tempat.

    Kemudian pada Sabtu, 28 September 2019, seorang awrga yang merupakan penjaga kios di dekat Bandara Ilaga ditembak KKB. Korban bernama Syahrudin. 

    Selain melakukan teror penembakan, KKB di wilayah itu juga membakar beberapa honai dan rumah warga. Kabid Humas Polda Papua Kombes AM Kamal menegaskan pihaknya bersama TNI masih mengejar anggota KKB pelaku penembakan.



    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id