Bibit Siklon Terdeteksi di Perairan Selatan Yogyakarta

    Ahmad Mustaqim - 07 Januari 2020 12:39 WIB
    Bibit Siklon Terdeteksi di Perairan Selatan Yogyakarta
    Kepala Stasiun Klimatologi Mlati, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Reni Kraningtyas. Foto: Medcom.id/Ahmad Mustaqim
    Yogyakarta: Stasiun Klimatologi Mlati, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta, mendeteksi keberadaan satu siklon di perairan selatan Yogyakarta. Siklon tersebut bergerak dari perairan wilayah Australia. 

    "Siklon ini terjadi di perairan barat Australia. Tapi kita tidak berharap siklon akan masuk DIY," kata Kepala Stasiun Klimatologi Mlati, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Reni Kraningtyas ditemui di Markas Komando Brigade Mobil (Brimob) Polda DIY, Selasa, 7 Januari 2020.

    Dia menerangkan bibit siklon itu tidak mendekat ke daratan. Reni memperkirakan siklon tersebut masih menjauh di perairan barat Australia.

    Rani mengatakan, pihaknya terus mamantau setiap kondisi terkini. Pihaknya selalu membarui perkembangan cuaca setiap ada perubahan.

    "Kita selalu memberikan warning apabila ada perubahan cuaca yang signifikan. Terakhir kita beri informasi cuaca untuk tanggal 1 sampai 7 Januari. Kemudian kita update tanggal 5 hingga 8, karena memang kondisinya signifikan di wilayah DIY dan sekitarnya," jelasnya. 

    Dia menjelaskan prakirawan di Stasiun Klimatologi siaga 24 jam. Prakirawan menjadi pihak terdepan dalam memantau setiap perkembangan cuaca.

    "Kita sesegera mungkin memberikan peringatan dini atau warning kepada masyarakat dan instansi terkait, sehingga dapat segera mengantisipasi apabila terjadi cuaca ekstrem yang mengakibatkan bencana," bebernya. 

    Reni mengungkapkan Januari hingga Februari akan menjadi puncak musim hujan untuk wilayah DIY dan sekitarnya. Perkiraan curah hujan berada di posisi sedang hingga lebat atau 10-20 milimeter per jam.

    Pantauan di wilayah perairan selatan DIY dan Jawa Tengah cukup hangat, dengan perkiraan suhu antara 28 hingga 31 derajat celsius. Dia menilai kondisi tersebut memicu penguapan cukup maksimal mengakibatkan terbentuknya awan hujan sedang hingga lebat.

    "Awal musim hujan di DIY datang sudah terlambat. Awal musim hujan ini karakteristiknya seperti pancaroba. Sampai sekarang belum mengakibatkan banjir signifikan. Kami memang berharap tidak terjadi bencana seperti di Jakarta dan sebagainya," tandasnya.



    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id