Ferry Curtis si Pejuang Literasi Lewat Musik

    Roni Kurniawan - 23 September 2019 13:58 WIB
    Ferry Curtis si Pejuang Literasi Lewat Musik
    Ferry Curtis
    Bandung: Ramah dan murah senyum begitu melekat dalam sosok Ferry Curtis. Dandanannya rapi dipadukan dengan rambut tipis dan kacamata. Sepintas, wajahnya terlihat mirip KH. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym. Sambil tersenyum, ia mengakuinya dan memang banyak yang mengatakan itu padanya.

    Mundur jauh ke belakang, ada cerita menarik dari sosok Ferry. Ia sempat jadi pengamen di Bandung saat era 1980-an pada usia belasan tahun. Secara perlahan, Ferry kemudian naik kelas dari panggung ke panggung, menggarap musikalisasi puisi dan pagelaran teater, hingga merintis jalur indie alias independen sebagai penyanyi balada.

    Sejak tahun 2000-an hingga kini, ia aktif sebagai pejuang literasi melalui jalur musik balada yang ditekuninya. Ferry bisa dibilang sebagai salah seorang penggagas gerakan literasi melalui musik.

    Berbagai lagu diciptakan dengan semangat mengajarkan pentingnya literasi dalam kehidupan pribadi, berbangsa, dan bernegara. Di luar itu, lagu-lagunya lebih banyak bertemakan tentang semangat kebangsaan dan kemanusiaan.

    Sejak kecil, Ferry memang ditempa di keluarga berpendidikan yang gemar membaca. Hal itu membuatnya tertular menjadi pribadi yang doyan membaca beragam jenis buku. Di masa mudanya, Ferry bahkan kerap datang ke toko buku minimal dua pekan sekali.

    Di sana, ia bisa menghabiskan beberapa jam untuk membaca buku yang terpajang di rak. Sesekali, saat ada uang di sakunya dari hasil mengamen, ia membeli buku. Itu pun buku obralan dengan harga murah dibanding yang dipajang di rak.

    Anak bungsu dari delapan bersaudara itu begitu menyadari pentingnya membaca. Ia memandang orang yang melek literasi akan maju dan memiliki kehidupan layak. Ia pun berkeyakinan bangsa yang maju adalah bangsa dengan warga berliterasi tinggi. Hal itu yang kemudian menempanya menjadi sosok yang begitu gemar terhadap dunia literasi.

    Literasi sendiri seringkali dianggap sederhana, yaitu tak jauh-jauh dari membaca buku. Ferry pun mengamininya. Tapi, ada makna yang jauh lebih besar dari istilah literasi dalam benaknya.

    "Literasi itu memang kata yang mendasarinya membaca. Tapi literasi itu berkembang pada akhirnya. Literasi ini adalah bagaimana mendorong orang untuk menyadari bahwa membaca itu penting, membaca setiap hal," ujar Ferry saat berbincang di Gedung Indonesia Menggugat, Kota Bandung, Sabtu, 21 September 2019.

    Baginya, literasi bukan hanya persoalan membaca buku kemudian selesai. Jauh lebih penting adalah memilih bacaan, mengikat makna dari suatu bacaan, mengerti apa yang dibaca dan harus dibaca, serta tentunya menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Siapapun bisa gemar membaca, bahkan memiliki koleksi ratusan hingga ribuan buku. Tapi, hal itu tak menjamin seseorang bisa mengikat makna dan menerapkan apa yang dibaca dalam kehidupan sehari-hari.

    "Membaca itu biasa. Tapi yang penting dia sadar apa yang harus dia baca, sadar apa yang harus dipelajari, sadar apa yang harus dilakukan, dan sadar dia melakukan sesuatu untuk kepentingan masyarakat di samping untuk dirinya. Memang mau gimana sih hidup? Pada akhirnya kan begitu," tutur Ferry.

    Ia mencontohkan seorang mantan pejabat militer di Indonesia dengan pendidikan tinggi. Tingginya pendidikan dibarengi dengan banyaknya buku bacaan. Tapi, hal itu tak sejalan dengan perilaku sang pejabat.

    "Bisa jadi orang berliterasi tapi mental tidak terawat. Makanya misalkan ada orang-orang pintar tidak masuk pada itu (memahami makna terpenting dari literasi). Misalnya ada mantan perwira tinggi masuk ke hal-hal kriminal. Kan lucu juga," jelasnya.

    Sempat Putus Sekolah

    Sebagai musisi sekaligus pejuang literasi, Ferry kini hidup berkecukupan. Apalagi sejak beberapa tahun lalu ia mulai menggarap lagu, himne, dan mars suatu perusahaan atau lembaga. Sekali menggarapnya, ia bisa mendapatkan uang puluhan hingga ratusan juta. Salah satu yang diciptakannya adalah lagu 'Sinergi BUMN'.

    Ferry juga kerap diundang untuk mengisi berbagai acara. Bukan hanya di Bandung, berbagai daerah di Indonesia sudah banyak yang dikunjunginya untuk tampil. Salah satu ciri khas Ferry dari setiap penampilannya adalah mengajak penonton membuat lagu secara spontan di akhir aksi panggungnya.

    Dari hasil perjuangannya melalui musik, ia bisa menghidup istri dan tiga anaknya. Tapi, jauh sebelum bisa jadi pria yang tergolong mapan, ia sempat berada dalam titik nadir. Ia putus sekolah ketika SMA karena kondisi ekonomi sulit keluarganya saat itu.

    Mengamen pun dijajal untuk menuai pundi-pundi uang. Di saat yang sama, mengamen justru jadi sarana menyalurkan hobi sekaligus menempa mental dan kemampuannya.

    Uniknya, saat mengamen dulu, ia tak pernah tampil asal-asalan meski harus berjalan dari rumah ke rumah. Ia tampil rapi tak seperti mayoritas pengamen jalanan saat ini. Lagu yang dibawakan pun selalu diusahakan untuk sempurna dan enak didengar. Sehingga, ia memiliki banyak pelanggan setia.

    Salah seorang pelanggannya yang selalu antusias saat Ferry datang untuk mengamen adalah keluarga berdarah Batak bermarga Sitompul. Keluarga ini dulu tinggal di Bandung, tepatnya di kawasan Muararajeun.

    "Saya kalau ke situ ngamen tidak di luar, tapi diajak masuk ke dalam, disitu diajak nyanyi-nyanyi. Ada juga pelanggan yang sampai mau ngangkat saya jadi anak sampai mau ngasih tempat kost," ungkap Ferry.

    Ferry sendiri terbiasa sejak kecil mendengarkan berbagai jenis lagu. Selain lagu populer saat itu, ia mahir bernyanyi sambil bermain gitar membawakan lagu-lagu berbahasa daerah.

    Hal itu jadi strateginya saat mengamen. Saat mendatangi orang Batak ia membawakan lagu Batak, saat mendatangi orang Ambon ia membawakan lagu Ambon, begitu seterusnya. Cara itu membuatnya memiliki banyak pelanggan dan kehadirannya sangat dinantikan.

    Curtis di belakang namanya pun berasal dari nama salah seorang anak pelanggannya. Pada salah satu momen menjelang penampilannya dalam sebuah pagelaran, ia meminta izin pada Johny Curtis, anak dari keluarga Sitompul, agar nama belakangnya dipakai. Sehingga, dari situlah nama Ferry Curtis lahir dan menjadi nama panggungnya hingga kini.

    Singkat cerita, Ferry akhirnya menempuh ujian persamaan sebelum tahun 1990. Ia merasa perlu menyelesaikan pendidikannya yang tertunda. Sebab, ia berkeyakinan pendidikan akan bermanfaat untuk masa depan.

    Usai menempuh ujian persamaan, ia berkuliah di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) yang kini bernama Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Ia memilih jurusan seni teater. Di sana ia ditempa dan memulai proses perjalanan karir. Dari penata musik untuk teater hingga tampil dari kampus ke kampus. Di sela kesibukannya kuliah, ia masih menjalani profesi sebagai pengamen.

    "Dari situ saya mulai sering tampil dari kampus ke kampus. Jadi saya dapat uang dari situ dan saat itu saya sudah mulai punya harga (jika diundang tampil). Pendapatan saat itu lumayan besar walaupun harus dibagi dengan yang lain (anggota band)," ucap Ferry.

    Dari kampus juga ia merasa kemampuannya menulis lirik lagu menjadi matang. Apalagi, ia banyak bergaul dengan para penyair kelas tinggi, salah satunya Saini KM. "Saya beruntung kuliah di ASTI karena lebih menajamkan kemampuan saya dalam hal lirik, termasuk dari segi musik," katanya.

    Tanamkan Literasi dengan Cara Unik

    Sebagai pejuang literasi, Ferry jelas sudah malang-melintang ke berbagai daerah dan menyentuh berbagai sendiri kehidupan masyarakat. Ia berusaha menularkan pentingnya literasi, mulai untuk masyarakat kelas atas hingga bawah.

    Ferry memulai banyak gerakan membaca sejak tahun 2000-an di berbagai daerah. Bahkan, yang teranyar, belum lama ini ia digaet Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia membuat album 'Jangan Berhenti Membaca' berisi lima lagu bertema literasi. Semua lagu itu adalah karya Ferry.

    Salah satu andalan di lagu itu berjudul 'Ke Pustaka' yang diciptakan pada 2001. Sedangkan empat lainnya berjudul 'Jangan Berhenti Membaca', 'Mari Membaca', 'Buku Sahabatku', dan 'Cinta untuk Semua Guru'. Setiap lagu digarap dengan musik balada khas Ferry, termasuk kedalaman makna dari setiap liriknya.

    Pertanyaannya, berjuang agar masyarakat melek pentingnya literasi, bagaimana Ferry menerapkan literasi di keluarganya sendiri? Ia ternyata punya cara unik.

    Ia lebih memilih mengikuti kemauan dan kesenangan anak-anaknya. Ia tidak secara tegas meminta atau menyuruh anaknya membaca buku. Yang dilakukan justru mengarahkan mereka mendalami jalur yang diinginkan.

    Ia mencontohkan anak sulungnya yang gemar pelajaran bahasa Indonesia. Ferry menyarankan agar sang anak tak memilih jurusan lain saat masuk ke SMA. Saat sekolah, ia memberi dukungan penuh agar bakat dan kemampuan sang anak makin terasah.

    Agar sang anak senang membaca, ia mencari celah. Ia mencari sosok-sosok penting dan bacaan menarik terkait jurusan yang digeluti sang anak di sekolah. "Misalkan ahli bahasa siapa, ahli sejarah siapa, saya baca dan kasih ke anak untuk dibaca," ujarnya.

    Cara itu dinilai lebih efektif. Sebab, sang anak menyukai bacaan karena sesuai dengan minatnya. Ia tak pernah menjejali anaknya dengan buku atau pelajaran yang tak disukainya.

    Untuk anak kedua yang menyenangi olahraga futsal, cara uniknya adalah mengajak menonton film tentang Cristiano Ronaldo. Hal itu jauh lebih menyenangkan untuk menanamkan pentingnya perjuangan untuk menjadi seorang pemain bintang.

    "Kita ajak nonton sama-sama film tentang Ronaldo. Pelajarannya bagaimana sesuatu itu diraih dengan kerja keras, dengan disiplin tinggi. Ronaldo kan menganggp diri orang terbaik dalam bidang ini (sepakbola) karena dia orang pekerja keras, berlatih tiap hari, memenangkan banyak penghargaan dan gelar," jelasnya.

    "Tapi semuanya saya runut dari awal kisah hidupnya. Misalkan bagaimana dari umur sekian dia harus ke Lisbon, tapi setelah sukses bapaknya meninggal. Saya memperkenalkan pada anak apapun ilmu pengetahuan judulnya adalah mempelajari kehidupan," tutur Ferry.

    Sedangkan untuk anak bungsunya, salah satu cara yang dilakukan adalah membelikan berbagai alat musik. Sebab, musik jadi kesukaan sang anak dan itu dinilai sebagai hobi yang menonjol.

    Membelikan berbagai peralatan musik juga secara tidak langsung menjadi pelajaran bagi kedua kakaknya. "Itu biar kakaknya tahu, kalau serius dalam hobinya pasti ayahnya memasilitasi dengan baik sesuai dengan kemampuannya," jelas Ferry.

    Ia pun kerap mengajak anak bungsunya ke pergaulan musisi hingga diajak ke tempat konser. Cara itu untuk membuat sang anak paham sejak dini bagaimana kehidupan musisi dan cara mereka berjuang. Ia mengajak sang anak untuk melihat kesuksesan seseorang dari perjuangannya, bukan hasil akhirnya.

    Tapi, di luar cara itu, ia tetap menekankan pada anak-anaknya pentingnya sekolah. Sebab, di sekolah mereka bisa mendapat berbagai ilmu pengetahuan sebagai bekal di masa depan.

    Ia juga menerapkan pemahaman bahwa sekolah adalah miniatur dunia kerja kelak. Sebab, di sekolah terdapat banyak lika-liku, ada orang jahat, orang baik, orang malas, orang rajin, serta beragam sisi lainnya. Anak-anak harus mulai melatih diri dengan suasana di sekolah. Sehingga, kelak saat bersua dengan dunia kerja, mereka sudah terbiasa dengan segala dinamikanya.

    Ia pun menekankan agar anak-anaknya menikmati segala proses dalam setiap jejak langkah kehidupan. Sebab, tak ada proses yang berakhir sia-sia jika ditekuni dengan sabar. "Paling penting menurut saya pemahaman itu. Pengertian-pengertian seperti itu yang harus dikasih," ucap Ferry.

    Hal itu jadi perwujudan literasi Ferry di lingkungan keluarga, khususnya bagi anak-anaknya. Sehingga, anak bukan hanya dijejali buku atau diperintahkan membaca.

    Ia lebih dulu mengajak mereka secara perlahan mendalami hobi atau minat yang disenangi. Setelah itu, 'racun' literasi disematkan melalui buku, bahan bacaan, perbincangan santai, sambil bermain, nonton film, hingga diajak konser.




    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id