Kemiskinan di Jayawijaya Diprediksi Naik 40%

    Antara - 30 Juni 2020 16:21 WIB
    Kemiskinan di Jayawijaya Diprediksi Naik 40%
    Ilustrasi potret kemiskinan di Jakarta. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat)
    Wamena: Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jayawijaya, Papua, memprediksi angka kemiskinan naik hingga 40,48 persen terdampak pandemi virus korona.

    Kepala Bappeda Jayawijaya Petrus Mahuze mengatakan peningkatan angka kemiskinan disebabkan oleh terhambatnya aktivitas warga pada berbagai sektor karena covid-19.

    "Target kita tahun ini 36,22 persen penduduk miskin, turun dari 2019. Tetapi dengan adanya wabah, kita prediksi (angka kemiskinan) naik di angka 38 sampai 40,48 persen," kata dia, Selasa, 30 Juni 2020.

    Ia mengatakan imbas korona di Jayawijaya, memengaruhi berbagai sektor yaitu pendidikan, perdagangan, dan transportasi, serta pertanian.

    Sebelumnya, Bappeda Jayawijaya memprediksi tingkat pengangguran terbuka tahun ini di bawah rata-rata yaitu 0,57 persen. Namun kini banyak pengangguran setelah sejumlah sektor usaha merumahkan karyawannya.

     Baca juga:  41 Pasien Covid-19 di Banjarnegara Sudah Sembuh

    "Sehingga kita prediksi tingkat pengangguran terbuka akan melonjak kurang lebih 2,57 persen, artinya meningkat dari prediksi hanya 0,57 persen," beber dia.

    Petrus mengungkapkan, dengan melambatnya peredaran uang sejak beberapa bulan terakhir, diprediksi pertumbuhan ekonomi Jayawijaya juga minus

    "Awalnya kita prediksi sekitar Juni sudah ada di angka tiga koma sekian dari target pertumbuhan ekonomi 2020, yaitu 8,1 persen. Tetapi kita prediksi sampai dengan Juni berada pada angka 2,18 persen karena kalau dilihat, Provinsi Papua sampai triwulan satu, itu baru di angka 1,8 persen," kata Petrus.

    Terkait inflasi yang diprediksi naik cukup tinggi di Jayawijaya dan daerah pegunungan tengah Papua pada umumnya, dikhawatirkan berdampak terhadap pendapatan per kapita masyarakat.

    "Selama ini pendapatan per kapita masyarakat berada di angka empat juta per orang, per keluarga. Setelah ini kita prediksi berada di bawah itu, mungkin di bawah satu koma sekian juta per orang karena aktivitas yang terbatas," jelas dia.

    Petrus menambahkan, dengan kebijakan normal baru oleh pemerintah pusat, diharapkan tak hanya memprioritaskan penanganan kesehatan tetapi juga membuka kegiatan perekonomian, meski terbatas.



    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id