Peringatan Hari Guru Nasional di Sumenep Pecahkan Rekor Dunia

    Rahmatullah - 25 November 2020 14:57 WIB
    Peringatan Hari Guru Nasional di Sumenep Pecahkan Rekor Dunia
    Piagam penghargaan rekor dunia yang diterima Dinas Pendidikan Sumenep. Medcom.id/ Rahmatullah
    Sumenep: Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2020 di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, memecahkan rekor dunia. Perayaan dikemas dengan pagelaran kesenian macapat selama 75 jam non stop dengan 13 kelompok.

    Rekor baru dunia pagelaran macapat ini tercatat dalam Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) dan mendapatkan piagam penghargaan.

    "Seni budaya ini merupakan rekor dunia baru. Tidak tanggung-tanggung, dalam Hari Guru Nasional ke-75 maka mereka melaksanakan rekor dunia pagelaran macapat 75 jam non stop dengan melibatkan 13 kelompok," kata Ketua Umum dan Pendiri Leprid, Paulus Pangka, di Sumenep, Rabu, 25 November 2020.

    Baca: Warga Bangka Belitung Abai Protokol Kesehatan Covid-19

    Dia menjelaskan pagelaran macapat dilaksanakan pada 22 hingga 25 November 2020. Untuk menentukan rekor baru melalui berbagai tahapan penilaian dan pemantauan dari tim.

    Kolaborasi antara peringatan HGN dan kesenian maupun kebudayaan lokal dinilai cukup menginspirasi. Sehingga dapat menjadi bagian dalam pelestarian budaya.

    "Kami memperikan apresiasi kepada Pemkab Sumenep, bapak Bupati dan Bapak Kepala Dinas Pendidikan. Untuk penilaian karena sekarang pandemi kita menggunakan tim di daerah yang terus memantau dan melakukan survei," jelasnya.

    Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Carto, mengaku senang karena pagelaran macapat dalam peringatan Hari Guru Nasional dapat membuat rekor baru dunia.

    Menurutnya pada dasarnya kegiatan ini sebagai bagian untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan lokal. Dalam pelaksanaannya mulai tanggal 22 November 2020, siswa dilibatkan untuk melihat secara langsung dengan bergiliran.

    "Kami ada keinginan macapat ini bisa dilestarikan, selain dilestarikan juga dapat diajarkan. Dengan pagelaran ini minimal murid tahu bagaimana seni macapat," ungkap Carto.

    Ia mengungkapkan regenarasi sangat penting untuk kelanjutan seni dan kebudayaan lokal. Salah satu contohnya ialah macapat yang pelaku seninya sudah pada usia yang tidak muda lagi.

    "Pelaku seni macapat sekarang sudah sepuh-sepuh. Kedepan bagaimana ada generasi, jadi pertama ada paduan yang tua dan muda. Kemudian kedepannya lagi diteruskan oleh yang muda-muda," ujarnya.

    Penyerahan penghargaan rekor baru dunia pagelaran macamat terlama ini diserahkan oleh Lepbrid di Gedung Ki Hajar Dewantara, Kabupaten Sumenep kepada Dinas Pendidikan setempat.

     

    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id